Selasa, 17 November 2009

Bagaimana menilai penjahit bagus




Hai, Emily.

Eureka! Hari ini aku menemukan lagi postulat untuk para penikmat fashion. (Ngomong-ngomong, postulat itu apa sih? Aku dengar dari temanku yang orang fisika, kedengarannya keren, begituu..jadi kupakai saja!) Aku terinspirasi dari pengalaman pribadi dan pengalaman temanku yang sedang marah-marah sekarang karena baju pesanannya salah buat. Warna bajunya merah muda pupus, luar biasa manis! Kurasa sangat cocok untuk warna kulitmu, Emily. Apalagi kalau kaupakai topi jeramimu yang berhias pita itu, juga kalung kerangmu. Persis seperti foto model parfum di majalah. Aneh juga ya, kenapa iklan parfum harus memasukkan seorang model berbaju trendi. I mean, come on, it's the fragrance that matters! Tapi aku sudah melantur.

Anyway, postulat atau apapun itu namanya adalah:

"Kalau mau menilai tingkat keterampilan seorang penjahit, lihatlah dari lengan baju buatannya."

Kenapa? Kenapa lengan baju, katamu? Ooh, ayolah, masa kamu tidak pernah menjahitkan baju yang gagal total di bagian lengan?

Jadi, Emily, tadinya kukira hanya aku saja yang belum menemukan penjahit yang tepat (ternyata menemukan mereka lebih sulit dari menemukan gaun polkadot yang tepat, masalahnya sampai sekarang aku belum mendapatkannya. Ke mana sih perginya para penjahit bagus?) Setiap kali aku pergi menjahitkan baju berlengan, entah itu panjang atau pendek, bahkan hanya untuk memperbaiki lengan sebuah baju yang jatuhnya tidak pas, aku SELALU pulang dengan kecewa. Kadang bahuku jadi seperti bahu pria kekar yang menghabiskan lima jam sehari di gym, atau bagian perutnya kekecilan tapi bagian bahunya kebesaran seolah aku habis menelan bola basket sehingga perutku buncit tak proporsional (blame it on the cutting), atau bahuku jadi seperti kotak dan lenganku segitiga samakaki.

Intinya, tidak ada yang benar dengan baju berlengan dari penjahitku.

Tapi ternyata ini bukan masalahku seorang, karena temanku itu. Dia tahu. Masalahnya adalah, tidak banyak penjahit yang mengerti anatomi dan proporsi tubuh perempuan. Mungkin kebanyakan mereka bergerak dari pola dasar sepotong baju, yang mana, mungkin, berdasar pada proporsi ideal perempuan - proporsi model, yang berasio 1 : 10 antara kepala dengan seluruh tubuh (dan jangan-jangan, 1 : 100 untuk otak dan seluruh tubuh), dengan ukuran dada-pinggang-pinggul 80-50-85. Nah, di sini letak kesalahan mendasar para penjahit itu, karena tiga milyar perempuan di dunia berarti tiga milyar proporsi tubuh yang berbeda. Kamu tidak bisa memaksakan proporsi tubuh 1 : 10 jika panjang kakiku kurang dari satu meter, kan? Maksudku, berapa panjang kepalaku, dan lebar badanku? Bagaimana bentuk lengkung bahuku? Tidak semua bahu perempuan datar lurus seperti gantungan baju, kau tahu. Dan pakaianlah yang seharusnya mengikuti bentuk tubuh, bukan sebaliknya.



Lalu, ada lagi masalah dengan "apakah para penjahit itu cukup up-to-date," Karena model pakaian berubah sesuai musim dan itu berarti setiap penjahit (jika mereka ingin menjawab seleraku) harus selalu menmperbarui skill dan teknik mereka, mulai dari cutting sampai embellishment. It's like, big shoulder pad, heavy frills and jumbo-sized button are absolutely "out"! Suggesting them to me only make it clear that they are living in different decade from us the styla-chica. Dan saat ini, gaun yang jatuh bagus adalah yang (ingat ini) "potongan lengannya mendekati 90 derajat dari tubuh". There's no use making it downward as if we're wearing thick blazers with shoulder pads, it's like, soooo 80s!



Jadi nasihatku padamu Emily manis, lihat jatuh-lengannya, lihat jatuh lengannya, lihat jatuh lengannya. Dan jangan tertipu dengan jenis minuman yang mereka sajikan - itu bukan penentu kualitas seorang penjahit (walaupun ya, itu mungkin membuat tarifnya jadi lebih mahal).



Peluk cium,
Ketikcepat

PS. Kamu tahu, aku mengetik ini dengan kedua ibu jariku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar