Kepada Yth.
Redaksi Kolom Bacabaca
Di tempat
Berikut saya kirimkan naskah ulasan buku The Great Wheel.
Besar harapan saya naskah ini dapat dimuat, agar roda ekonomi saya dapat terus berputar.
Terima kasih dan salam,
- Kitara -
Salah satu kenangan masa kecil saya - core memory, kata orang-orang jaman sekarang - adalah naik Bianglala, roda raksasa di Dunia Fantasi alias Dufan. Di antara berbagai wahana memusingkan-mengocok isi perut-membuat jerit-jerit yang setengah terpaksa saya naiki karena gengsi diejek penakut oleh Bapak, wahana Bianglala (dan Istana Boneka) bagaikan tarikan nafas lega. Di roda besar ini, kita hanya duduk tenang menikmati pemandangan dari ketinggian, termasuk pemandangan orang-orang yang menjerit ketakutan dari wahana-wahana lain.
Belasan tahun kemudian, saya mengenal istilah bahasa Inggris dari roda semacam Bianglala: Ferris Wheel. Puluhan tahun kembali berlalu, dan saya menemukan buku ini, sebuah fiksi historis tentang pembangunan Ferris Wheel pertama di Chicago oleh Sang Legenda Mr. George Washington Gale Ferris sendiri. Tidak hanya itu, di sampul buku ini tertera lambang Newbery Honor, sebuah penghargaan literatur anak yang sudah pasti jadi jaminan kualitas isinya. Tanpa pikir panjang saya checkout buku ini dari keranjang.
Setting cerita adalah Amerika tahun 1892-1893. Pada saat itu, usia negara tersebut masih relatif muda, ketika imigran dari berbagai belahan dunia berdatangan karena tergiur mimpi kemakmuran yang ditawarkannya. Cerita bergulir dari sudut pandang seorang imigran muda, berlayar menuju New York dengan ingatan akan ramalan bibinya bahwa ia akan "menaiki roda terbesar di dunia". Conn si imigran muda kemudian ikut andil dalam pembangunan Ferris Wheel pertama yang beroperasi untuk World Fair 1893.
Pembangunan roda raksasa tersebut diwarnai skeptisisme dari kebanyakan orang - insinyur, teknisi, masyarakat, bahkan jajaran petinggi World Fair sendiri. Tidak mungkin roda itu bisa berdiri. Dengan beban seberat itu, dia pasti akan melendot, tidak bisa bundar sempurna. Kalaupun bisa dibangun, tidak akan ada orang yang mau mengambil risiko naik wahana ini dan jatuh dari ketinggian 264 kaki. Namun Mr. Ferris, selain insinyur handal, juga seorang pemimpi. Seperti jenius pada umumnya, ia bisa melihat apa yang orang lain tidak - ia memiliki visi yang jernih tentang roda ini, bahkan saat area World Fair masih berupa hamparan tanah berlumpur. Ia tidak butuh kepercayaan semua orang - cukup segelintir orang yang percaya pada visinya serta mau bekerja untuk mewujudkannya.
"Kekuatan mimpi" tampaknya menjadi warna utama buku ini. Mimpi Mr.Ferris tentang sebuah engineering masterpiece terwujud karena keyakinan terhadap visinya sendiri - ia bahkan merogoh kantong pribadinya dan mendanai 25 ribu dolar pertama pembangunan roda tersebut. Kekuatan mimpi juga digaungkan oleh cerita samping Conn dan Trudy. Conn yang berlayar ke Amerika karena percaya pada mimpi yang tercipta akibat ramalam bibinya. Trudy yang percaya penuh pada mimpi Conn dan tahu bahwa suatu saat mereka akan bertemu. Di Amerika, impian macam apapun bisa terwujud, selama kamu bekerja keras. Such an American Dream.
The Great Wheel - judul buku ini - sama sekali tidak baru, edisi pertamanya terbit pada 1957 ketika Impian Amerika masih tampak begitu cemerlang dan nyata. Di masa itu, bahkan hingga beberapa dekade sesudahnya, seluruh dunia tampaknya percaya pada konsep Impian Amerika, "kemakmuran akan datang ketika kamu bekerja keras." Yang menarik adalah karena saya membacanya sekarang, ketika mata dunia sudah terbuka tentang berbagai kekerasan, penindasan, dan manipulasi yang dilakukan Amerika terhadap bangsa-bangsa lain.
Selama membaca buku ini, yang saya rasakan adalah keresahan, memanggil-manggil dari sudut benak. Di luar penceritaan yang nyaman dan mengalir, ilustrasi yang sangat membantu visualisasi, dan aura jaman penuh harapan yang tertangkap dengan baik, beberapa diksi terasa mengganggu ("Semoga di sana tidak ada Indian"). Penulis dengan ringan memaparkan, area World Fair tempat roda Ferris dibangun adalah lahan taklukan dari penduduk asli. Di masa kini, ketika pasangan muda kesulitan memperoleh rumah karena harga properti yang tidak masuk akal, saya membaca Conn dan Trudy menerima tanah peternakan lengkap dengan rumahnya sebagai hadiah pernikahan. Hal itu dimungkinkan, karena memang ada masa ketika tanah di Amerika gratis asalkan kamu mau tinggal di sana selama 2 tahun dan menggarap lahannya. Tetapi, itu tanah siapa? Dari mana hak penggratisan tanah tersebut datang? Karena kamu kulit putih (yang mengklaim dirinya) pilihan Tuhan? Suara-suara kecil di kepala terus menuntut sementara saya membalik halaman demi halaman. Dan sialnya, saya membaca sampai selesai karena ceritanya sangat asyik - memang begitulah buku-buku sekelas Newbery (saya mengoleksi sejumlah kecil buku Newbery dan sudah membaca semuanya).
Pada akhirnya, saya berpikir, buku ini adalah karya literasi yang berkualitas, tetapi dia juga hanya anak jamannya. Karya literasi berkualitas, karena tak dapat dipungkiri komponen-komponennya sebagai karya literasi sudah tergarap sangat baik: premis, alur, penceritaan, pendalaman karakter, bahkan ilustrasi yang dibuat sendiri oleh penulisnya (FYI, Robert Lawson adalah satu-satunya orang di dunia yang meraih penghargaan literasi ganda - Newbery untuk penulisan dan Caldecott untuk ilustrasi). Namun buku ini juga mengandung bias-bias jaman yang kentara jelas: rasisme, kebanggaan yang tak ditutup-tutupi sebagai bangsa penjajah, kepercayaan penuh terhadap teknologi dan keabaian penuh terhadap kerusakan lingkungan. Dan saya belajar sesuatu dari buku ini, bahwa sebagai pembaca, ternyata kita bisa menikmati sebuah bacaan tanpa percaya sedikitpun mengenai isinya.
* * *