Minggu, 11 Oktober 2026

Tarik tambang dengan botol

Kitara,

Bagaimana kabarmu, apakah masih dalam fase writer's block? Mungkin racauanku bisa memantik idemu untuk menulis... Atau mungkin membuatmu makin pusing. Yah, mari kita lihat.

Akhir pekan lalu, aku iseng mengusulkan sebuah permainan. Mirip tarik tambang, tetapi aturannya sedikit berbeda. Pertama, tambangnya adalah botol. Kedua, pemain harus menarik botol sekuat mungkin, seperti tarik tambang, tetapi tujuannya untuk merebut botol itu dari tangan para lawan lain. Ketiga, ini bukan permainan tim: semua orang berjuang untuk dirinya sendiri.

Kami mencoba memainkannya di lapangan. Seorang teman menjadi wasit, melempar botol ke tengah-tengah kami yang berdiri membentuk lingkaran. Kami berlomba mencapai botol itu. Beberapa orang yang beruntung berhasil menaruh tangan di botol, kami yang lain harus mundur. Lalu, mereka mulai berebut.

Kitara, menurutmu siapa yang memenangkan botol itu?

Yang berbadan paling besar, katamu? Atau berlengan paling kekar?

Pemenangnya seorang gadis muda, tubuhnya mungil. Berbeda dari teman-teman lain di permainan ini, dia tidak berusaha menarik botol itu atau merebutnya dengan paksa. Sebaliknya, dia mencurahkan seluruh tenaga untuk tetap MEMEGANG botol itu. Ya, hanya memegang. Botol itu ditarik kesana-kemari oleh sekian pemain, si gadis ikut terombang-ambing. Seseorang bertubuh tinggi menyentakkan botol hingga jatuh terjengkang, si gadis ikut tersentak dan jatuh. Tetapi, tangannya tidak pernah lepas, berpegang mantap pada botol.

Satu demi satu lawannya kelelahan, menyerah, bergerak menjauh. Kerumunan merenggang hingga tersisa satu lawan yang masih menarik, mengguncang, menyentak. Gadis ini mengikuti semua gerakan tanpa melawan. Wajahnya tenang, seolah berkata, "Apapun yang terjadi, botol ini tak akan kulepaskan." Bermenit-menit mereka bergulat. Lalu, lawan terakhir itu pun menyerah, dan si gadis menang.

Kitara, ternyata yang paling kuat adalah tekad.


- Galia -

Sabtu, 15 Februari 2025

Tentang roda raksasa, mimpi, dan hal-hal di belakangnya

 



Kepada Yth.
Redaksi Kolom Bacabaca
Di tempat

Berikut saya kirimkan naskah ulasan buku The Great Wheel.
Besar harapan saya naskah ini dapat dimuat, agar roda ekonomi saya dapat terus berputar.
Terima kasih dan salam,

- Kitara -



Salah satu kenangan masa kecil saya - core memory, kata orang-orang jaman sekarang - adalah naik Bianglala, roda raksasa di Dunia Fantasi alias Dufan. Di antara berbagai wahana memusingkan-mengocok isi perut-membuat jerit-jerit yang setengah terpaksa saya naiki karena gengsi diejek penakut oleh Bapak, wahana Bianglala (dan Istana Boneka) bagaikan tarikan nafas lega. Di roda besar ini, kita hanya duduk tenang menikmati pemandangan dari ketinggian, termasuk pemandangan orang-orang yang menjerit ketakutan dari wahana-wahana lain.

Belasan tahun kemudian, saya mengenal istilah bahasa Inggris dari roda semacam Bianglala: Ferris Wheel. Puluhan tahun kembali berlalu, dan saya menemukan buku ini, sebuah fiksi historis tentang pembangunan Ferris Wheel pertama di Chicago oleh Sang Legenda Mr. George Washington Gale Ferris sendiri. Tidak hanya itu, di sampul buku ini tertera lambang Newbery Honor, sebuah penghargaan literatur anak yang sudah pasti jadi jaminan kualitas isinya. Tanpa pikir panjang saya checkout buku ini dari keranjang. 

Setting cerita adalah Amerika tahun 1892-1893. Pada saat itu, usia negara tersebut masih relatif muda, ketika imigran dari berbagai belahan dunia berdatangan karena tergiur mimpi kemakmuran yang ditawarkannya. Cerita bergulir dari sudut pandang seorang imigran muda, berlayar menuju New York dengan ingatan akan ramalan bibinya bahwa ia akan "menaiki roda terbesar di dunia". Conn si imigran muda kemudian ikut andil dalam pembangunan Ferris Wheel pertama yang beroperasi untuk World Fair 1893.

Pembangunan roda raksasa tersebut diwarnai skeptisisme dari kebanyakan orang - insinyur, teknisi, masyarakat, bahkan jajaran petinggi World Fair sendiri. Tidak mungkin roda itu bisa berdiri. Dengan beban seberat itu, dia pasti akan melendot, tidak bisa bundar sempurna. Kalaupun bisa dibangun, tidak akan ada orang yang mau mengambil risiko naik wahana ini dan jatuh dari ketinggian 264 kaki. Namun Mr. Ferris, selain insinyur handal, juga seorang pemimpi. Seperti jenius pada umumnya, ia bisa melihat apa yang orang lain tidak - ia memiliki visi yang jernih tentang roda ini, bahkan saat area World Fair  masih berupa hamparan tanah berlumpur. Ia tidak butuh kepercayaan semua orang - cukup segelintir orang yang percaya pada visinya serta mau bekerja untuk mewujudkannya.

"Kekuatan mimpi" tampaknya menjadi warna utama buku ini. Mimpi Mr.Ferris tentang sebuah engineering masterpiece terwujud karena keyakinan terhadap visinya sendiri - ia bahkan merogoh kantong pribadinya dan mendanai 25 ribu dolar pertama pembangunan roda tersebut. Kekuatan mimpi juga digaungkan oleh cerita samping Conn dan Trudy. Conn yang berlayar ke Amerika karena percaya pada mimpi yang tercipta akibat ramalam bibinya. Trudy yang percaya penuh pada mimpi Conn dan tahu bahwa suatu saat mereka akan bertemu. Di Amerika, impian macam apapun bisa terwujud, selama kamu bekerja keras. Such an American Dream.

The Great Wheel - judul buku ini - sama sekali tidak baru, edisi pertamanya terbit pada 1957 ketika Impian Amerika masih tampak begitu cemerlang dan nyata. Di masa itu, bahkan hingga beberapa dekade sesudahnya, seluruh dunia tampaknya percaya pada konsep Impian Amerika, "kemakmuran akan datang ketika kamu bekerja keras." Yang menarik adalah karena saya membacanya sekarang, ketika mata dunia sudah terbuka tentang berbagai kekerasan, penindasan, dan manipulasi yang dilakukan Amerika terhadap bangsa-bangsa lain.

Selama membaca buku ini, yang saya rasakan adalah keresahan, memanggil-manggil dari sudut benak. Di luar penceritaan yang nyaman dan mengalir, ilustrasi yang sangat membantu visualisasi, dan aura jaman penuh harapan yang tertangkap dengan baik, beberapa diksi terasa mengganggu ("Semoga di sana tidak ada Indian"). Penulis dengan ringan memaparkan, area World Fair tempat roda Ferris dibangun adalah lahan taklukan dari penduduk asli. Di masa kini, ketika pasangan muda kesulitan memperoleh rumah karena harga properti yang tidak masuk akal, saya membaca Conn dan Trudy menerima tanah peternakan lengkap dengan rumahnya sebagai hadiah pernikahan. Hal itu dimungkinkan, karena memang ada masa ketika tanah di Amerika gratis asalkan kamu mau tinggal di sana selama 2 tahun dan menggarap lahannya. Tetapi, itu tanah siapa? Dari mana hak penggratisan tanah tersebut datang? Karena kamu kulit putih (yang mengklaim dirinya) pilihan Tuhan? Suara-suara kecil di kepala terus menuntut sementara saya membalik halaman demi halaman. Dan sialnya, saya membaca sampai selesai karena ceritanya sangat asyik - memang begitulah buku-buku sekelas Newbery (saya mengoleksi sejumlah kecil buku Newbery dan sudah membaca semuanya).

Pada akhirnya, saya berpikir, buku ini adalah karya literasi yang berkualitas, tetapi dia juga hanya anak jamannya. Karya literasi berkualitas, karena tak dapat dipungkiri komponen-komponennya sebagai karya literasi sudah tergarap sangat baik: premis, alur, penceritaan, pendalaman karakter, bahkan ilustrasi yang dibuat sendiri oleh penulisnya (FYI, Robert Lawson adalah satu-satunya orang di dunia yang meraih penghargaan literasi ganda - Newbery untuk penulisan dan Caldecott untuk ilustrasi). Namun buku ini juga mengandung bias-bias jaman yang kentara jelas: rasisme, kebanggaan yang tak ditutup-tutupi sebagai bangsa penjajah, kepercayaan penuh terhadap teknologi dan keabaian penuh terhadap kerusakan lingkungan. Dan saya belajar sesuatu dari buku ini, bahwa sebagai pembaca, ternyata kita bisa menikmati sebuah bacaan tanpa percaya sedikitpun mengenai isinya.

* * *

Minggu, 01 November 2015

Di Halaman

Takut bertemu.
Takut berpisah.

Seperti seorang yang lama tak pulang.

Segan mengetuk pintu.
Enggan jauh melangkah.

Pahit teringat senyumnya yang beku.
Ingin pergi, tapi rindu terlalu membuncah.

Jadi ia menunggu di halaman.

Meragu antara

Berlalu
atau
Singgah.


Selasa, 17 Juni 2014

24 januari 1989

selamat malam, Coklat.
aku masih bertanya-tanya, siapa kamu, kapan aku bisa bertemu denganmu, dan bahkan kadang-kadang: apakah aku bisa bertemu kamu dalam masa hidup yang ini (sepertinya karena aku percaya reinkarnasi).
apakah jalanku akan bersilangan dengan jalanmu beberapa waktu ke depan?
apakah aku sudah pernah bertemu denganmu dan melewatkanmu,
atau kamu adalah seseorang yang sama sekali baru, kutemui suatu saat di masa depan?
apakah kamu benar-benar berkulit coklat dan berambut keriting,
atau sama sekali berbeda dari gambar yang aku buat?
aku ingin bertemu denganmu, Coklat.
aku berdoa, semoga jalanku adalah jalan yang membawaku kepadamu.
semoga Tuhan mengijinkanku bertemu denganmu, kamu yang terus kutunggu dan sudah kusayangi bahkan sebelum benar-benar datang.
aku juga berdoa untuk bisa bersamamu, untuk waktu yang sangat lama kalaupun tak bisa selamanya, dan bahwa akhirat benar-benar ada agar aku bisa bertemu lagi denganmu di sana.
karena aku tahu setelah bertemu denganmu, berpisah lagi tanpa sempat bertukar kata dan berbagi waktu akan sangat menyakitkan.
juga karena aku tahu saat melihatmu: kamu adalah jiwa yang sama denganku tapi dalam raga yang berbeda - tak banyak pengaruhnya.
karena saat itu, tak ada yang akan memahamiku seperti kamu, dan tak ada yang bisa membebaskanmu seperti aku.
karena saat bersama, hidup kita akan meluap ke segala sesuatu di sekitar kita, membuat mereka semakin bersinar, seperti kita. bersamamu aku akan bercahaya seterang yang aku bisa, lebih terang dari yang kusangka aku bisa, dan cahaya kita akan menyinari segala sesuatu di muka bumi, membuatnya beribu kali lebih cantik dan baik.
aku menyayangimu, Coklat.
pikiran itu saja sudah membuatku bahagia - bahwa kamu sedang berjuang bersamaku, walau tanpa saling melihat, agar suatu saat di masa depan kita bisa bertemu dan bersinar bersama.
aku menyayangimu, dan tak sabar ingin bertemu denganmu. aku menunggumu...tidak. aku berjuang mengembangkan diri dan memenuhi cahaya diriku, agar aku siap ketika bertemu denganmu.
sampai jumpa, Coklat.




Cenik

8 Juni 1999

Dan di sanalah mereka, berdiri berhadapan.
Senyum si perempuan tersungging manis, tenang seperti permukaan laut yang menyembunyikan perjuangan jutaan makhluk untuk bertahan hidup.
Tatap si laki-laki tampak teduh walau entah kecamuk apa di dalam dada dan kepalanya.

"Apakah dia orang yang selalu kucari selama ini?"
"Andai aku mempercayaimu, akankah kamu menyakitiku?"
"Bagaimana kalau dia tidak sungguh-sungguh?"
"Apakah ini sungguhan, atau dia hanya mau memanfaatkanku?"
"Sampai kapan kami akan bisa bersama?"
"Aku takut kehilangan dia."
"Aku takut dikhianati lagi."
"Apakah ini cinta sejati, atau hanya ilusi?"
"Akankah aku bahagia bersamanya?"
"Apakah aku cukup baik untuknya?"
"Apakah dia cukup baik untukku?"

Dan di sanalah mereka, berdiri berhadapan.
Sepasang pemberani (atau orang gila) yang memutuskan untuk bersama di tengah badai ketidakpastian yang mengamuk di sekeliling mereka.

"Kita tidak pernah bisa tahu masa depan. Tetapi selama masih punya waktu bersama, aku akan memperjuangkanmu."

Dan di sanalah mereka, berdiri berhadapan.
Si perempuan tersenyum manis, si laki-laki menatap teduh, keduanya merayu Sang Waktu agar berpihak pada mereka.
Semoga, ya, semoga.

Kamis, 27 Maret 2014

Takut dan Berani



"Takut."

Itulah yang saya rasakan waktu memandang Batu Jamur menjulang tinggi di atas lubuk Green Canyon. Ini adalah tempat kamu bisa mengalami sensasi adrenalin, melompat dari ketinggian enam meter untuk tenggelam dalam air hijau yang dingin. Saya, yang pernah merasakan adrenalin, tahu rasanya. Ketegangan luar biasa yang membuat tidak-bisa-tidak-harus-berteriak-atau-menjerit, tetapi yang lebih tak terlupakan adalah momen sesudahnya. Peningkatan kesadaran, kejernihan pikiran, rasa seperti "menang," hidup menjadi lebih hidup setidaknya untuk beberapa saat: energi berada pada titik maksimal, mood melambung, saya tertawa dan merasa berani.

Lalu, saya hafal rasa takut luar biasa yang mendahului serangan adrenalin. Lutut melemas, jantung berdebar keras, tangan berkeringat, perut seperti diaduk-aduk. Hmmm...tidak enak, sangat tidak enak. Dalam situasi seperti itu, naluri paling dasar pasti akan berteriak: "Lari. Sembunyi. Jauhi sumber rasa sakit itu."

Lalu dilema umum yang saya yakin sangat dikenal oleh para pelaku aktivitas ekstrim: "maju, atau mundur?" "loncat, tidak loncat?" "hadapi, atau lari?"

Karena dalam setiap aktivitas yang beresiko, selalu ada saat-saat seperti saya di atas batu jamur itu: ketika saya sudah memanjat hingga ke puncak, lalu saya berdiri di tepian batu itu, memandang ke bawah. Di atas sini ada rasa aman dari daratan yang saya pijak, tetapi di saat yang sama, ada kebuntuan. Saya tidak bisa maju lebih jauh lagi dengan rasa aman yang sama. Lalu di bawah sana, air hijau cantik yang berjanji akan menerima tubuh saya jika saya jatuh, tetapi entah ada apa di balik permukaan air itu. Dan terakhir, ada jarak yang harus diseberangi, ada satu langkah yang harus dilewati - satu langkah yang menjadi pembeda antara berada di atas batu atau di dalam air. Satu langkah, yang menjadi keputusan saya untuk saya ambil atau tidak.

"Takut."

Di atas batu itu, saya begitu takut sampai menangis. Ketakutan yang tidak beralasan sebenarnya, karena keamanan saya sudah diusahakan dengan optimal oleh instruktur lokal. Saya mengenakan pelampung, di bawah sana beberapa orang lifeguard siap menolong, dan sebelum saya sudah ada belasan orang meloncat dengan aman. Resiko sudah diperkecil sebisa mungkin, dan saya tahu itu. Setiap orang yang sudah meloncat merasa sangat senang, bahkan ketagihan mencoba lagi, dan saya tahu itu. Saya ingin mengalami sendiri rasanya, dan saya tahu itu. Jadi tidak ada alasan untuk tidak meloncat.

Maka tinggallah saya, berhadapan dengan Ketakutan: sebuah insting purba untuk mempertahankan hidup, untuk menghindarkan diri dari rasa sakit, untuk berpegang kuat-kuat pada segala hal yang aman dan nyaman selama mungkin.

Ketakutan berkata: "Apa perlunya melakukan ini? Rasanya tidak enak. Di sini saja kan sudah cukup enak."

Saya berkata: "Tapi kalau melakukan ini, mungkin saya akan merasakan sesuatu yang lebih enak lagi."

Ketakutan berkata: "Kalau kamu meloncat, belum pasti kamu akan mendapat yang enak. Sedangkan kamu pasti akan merasakan sesuatu yang tidak enak."

Saya berkata: "Betul juga. Yang enak belum tentu, tidak enak sudah pasti."

"Makanya, mundur saja. Masuk akal, kan?"

Saya mundur selangkah.

Tiba-tiba Hati berkata: "Bukankah lebih baik kamu meloncat?"

"Kenapa?" tanya saya.

"Bagaimana kalau meloncat ternyata seru? Bagaimana kalau ternyata semua berjalan lancar? Bagaimana kalau kamu tidak meloncat, dan sampai pulang penasaran bagaimana rasanya meloncat?"

"Bagaimana kalau meloncat ternyata tidak enak? Bagaimana kalau pelampungnya lepas? Dia kan tidak bisa berenang. Bagaimana kalau jatuhnya melenceng dan dia menghantam batu?" protes Ketakutan dengan galak.

"Ya, Ketakutan benar," kata saya.

Kata Hati, "Kalau kamu berpikir begitu, kamu malah HARUS meloncat."

"Kenapa?" tanya saya, bingung.

"Karena kalau kamu tidak loncat, dia yang menang," kata Hati, menunjuk pada Ketakutan, "dia akan menguasaimu, dan tepian ini akan selamanya menjadi batasmu. Hal ini tidak hanya berlaku di batu jamur, tetapi dalam segala hal di kehidupanmu. Hidupmu akan terbatas, karena kamu selalu menghindari tepian. Apa kamu ingin hidup seperti itu?"

"Tidak," saya mengakui.

"Di bawah sana mungkin tidak ada apa-apa, tetapi kalau kamu mengambil langkah ini dan meloncat, kamu sudah menang. Karena hidupmu masih menjadi milikmu, bukan milik Ketakutan."

"Dengar baik-baik," ujar Hati, "Tidak ada sesuatu yang benar-benar buruk bisa terjadi padamu, kecuali kalau kamu menyerah pada Ketakutan."

Setelah itu tak ada keraguan. Saya berlari ke ujung, menutup mata, merasakan tanah menghilang di bawah kaki saya.

Saya meloncat.




Gambar diambil dari sini.

Rabu, 26 Februari 2014

"Hal-hal tentang cinta yang setelah dialami ternyata berbeda dari film drama hollywood - atau bukti bahwa menguasai teori bukan berarti mumpuni dalam praktek"


1. Tidak ada pangeran tampan berkuda putih yang baik hati, gagah berani, romantis dan mencintaimu setengah mati. Semua laki-laki adalah manusia biasa, dengan banyak kelemahan, kekonyolan dan hal-hal menyebalkan. Tetapi kamu akan menemui itu cukup bagimu - kamu tidak butuh pangeran berkuda putih.

-TERBUKTI-


2. Mereka tidak bisa membuatmu bahagia; kamu yang membuat dirimu bahagia. Kamu membutuhkan seseorang untuk merayakan kebahagiaan bersama-sama, karena "happiness only real when shared" (christopher McCandless). Tetapi kalau kamu tidak bahagia sejak awal, tidak akan pernah ada hubungan yang bisa membuatmu bahagia, sesempurna apapun hubungan itu.

-TERBUKTI-


3. "They live happily ever after" jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Memiliki rasa sayang pada seseorang tidak cukup untuk menciptakan kebahagiaan ataupun hubungan yang indah. Dengan adanya dua orang yang berbeda dan harus berhubungan secara intens dalam jangka waktu lama, kamu harus berusaha, bahkan bekerja ekstra keras untuk mewujudkan "hidup bahagia selama-lamanya." Begitu kamu berhenti berusaha, hubunganmu akan segera melemah.

-TERBUKTI-


4. Tapi, pada satu tingkatan, memang perlu ada rasa itu. Karena berusaha itu kadang begitu melelahkan, atau kadang usaha yang kamu lakukan tidak memberi hasil yang kamu harapkan. Di saat itulah rasa memberimu alasan untuk mencoba sekali lagi, dan sekali lagi, karena kamu tidak bisa pergi begitu saja dari orang yang kamu sayang.

-TERBUKTI-


5. Kasih sayang yang tulus tidak selalu berbuah manis. Kadang kamu sudah mengusahakan segalanya, tapi orang itu memang tidak punya apa yang kamu inginkan. Dan tidak ada yang bisa kamu lakukan dengan hal itu selain berusaha menerimanya, lalu lain kali belajarlah untuk menjaga ekspektasi tetap rendah.

-TERBUKTI-


6. Ini menyakitkan, bahkan untuk aku yang menuliskannya, tapi harus diterima: cinta tidak cuma satu dan selamanya. Dalam hubungan jangka panjang, kamu akan tergoda setidaknya satu kali. Kadang berkali-kali. Kadang kamu hanya tergoda di mata, kadang turun sampai ke hati. Yang menentukan kualitas dirimu, dan yang menentukan keberlanjutan hubungan, adalah bagaimana kamu merespons godaan itu.

-TERBUKTI-


7. Pasangan yang bertahan sampai tua adalah survivor. Mereka bukan hidup bahagia selama-lamanya, tetapi mereka memilih secara sadar untuk tetap bersama bahkan ketika keadaan sangat tidak menyenangkan untuk tetap bersama. Kadang pilihan itu diambil dengan menyisakan luka pada satu orang, atau dua-duanya. Sama seperti veteran perang, pasangan-pasangan tua juga punya bekas luka (kadang teramputasi tapi tidak kelihatan).

-TERBUKTI-


8. Status dan rasa tidak berhubungan. Menikah tidak selalu berarti saling mencintai. Memiliki pasangan tidak selalu berarti bahagia. Kadang kamu mencintai seseorang tapi memilih berpasangan dengan orang lain. Kadang kamu harus memilih antara pasanganmu atau kehidupan impian yang menunggu untuk kamu raih. Status adalah pilihan. Menjadi bahagia bisa diusahakan, ada ataupun tak ada rasa.

-TERBUKTI-




Lalu kamu bertanya, apa yang bisa kupercaya?

Bahwa cinta di dunia nyata tidak pernah masuk akal. Jangan banyak tanya, jangan membandingkan, jangan menganalisis. Selami saja. Nikmatilah lara.





PS. Kesimpulan ini ditulis berdasarkan pengalaman nyata orang-orang. Apakah kamu mengalaminya juga?