Minggu, 07 Februari 2010

Yang diajarkan orang tuaku

Kepada Yth.
Redaksi majalah Tempe
di tempat.

Dengan hormat,
Dengan ini saya kirimkan tulisan saya untuk dimuat di rubrik "kotretan tengah". Terima kasih.

-Kitara-




"Yang diajarkan orang tuaku"

Ayah dan ibuku sudah menikah selama lebih dari 30 tahun.
Selama hampir 30 tahun itu, aku sebagai satu-satunya anak sulung mereka yang tersayang, telah menyaksikan bagaimana mereka hidup bersama - kecuali dalam beberapa bulan pertukaran pelajar, kos, proyek di luar kota, dan lain-lain. Ini adalah apa yang kuketahui tentang mereka.

Setiap kali ayahku pulang dari luar kota (Beliau bekerja di kota yang berbeda dan pulang tiap beberapa minggu), ibuku selalu sibuk beres-beres rumah. Ayahku tak mentoleransi benda-benda berserakan walaupun beliau juga bukan orang yang tertib: ayahku meletakkan telepon genggam di sana-sini, menyimpan (atau meninggalkan) dompetnya di tempat yang berbeda setiap saat kemudian bingung mencarinya, melepas sepatu di ruang keluarga dan lupa membawanya ke rak sepatu. Dan di luar semua sifat 'santai'nya, beliau tetap rajin memprotes kalau rumah berantakan, betapa 'tidak ada permukaan yang kosong di rumah ini'.

Ibuku, sebaliknya, adalah seorang pelukis. Bagi pelukis, bidang kosong adalah ruang berkarya - mungkin karena itulah 'permukaan kosong' apapun akan dihiasi pernak-pernik jika ibu yang sedang menjabat kepala rumah tangga sementara: dari kacamata baca, kunci motor, botol obat, kecap, sepiring gorengan, koran, hingga berkas-berkas tagihan.

Tentu saat kepala rumah tangga yang sesungguhnya akan datang, semua harus kembali pada gaya kepemimpinan 'permukaan kosong': tegas, lurus, tertib, komando satu arah (yang kami semua tahu pasti ke mana arahnya: top-down). Maka sang pejabat sementara pun mengkondisikan keadaan, kadang dengan mengomel panjang lebar karena sudah lelah dan masih harus "pak-pik-pek" membersihkan rumah. Pada saat-saat seperti itu, anak-anak tercintanya pun tak luput dari pengkondisian: beliau akan menyuruh kami berpartisipasi dalam GRB - gerakan rumah bersih - dan kami pun (yang biasanya bebas bermain video game atau baca komik) menyeret langkah mengambil sapu sambil ikut mengomel dalam hati.

Beberapa tahun lalu keadaan ini membuatku marah. Aku merasa, sungguh munafik harus memainkan peran yang berbeda ketika ada dan tidak ada ayah. Aku gemas, kalau hal ini begitu membebani, kenapa ibuku tidak memberontak saja dan membebaskan diri dari 'penindasan' ayah. Aku kesal karena semuanya terasa seperti berbohong, dan kenapa sebuah keluarga harus saling membohongi? Kenapa ibuku tidak terbuka saja bahwa ia repot agar ayahku belajar menerimanya?

Sekarang tahun 2010. Sejak saat hatiku berontak hingga aku menuliskan ini, waktu telah berjalan sangat jauh, acuh pada kealpaan orang yang membiarkannya menyelinap keluar dari genggaman mereka.

Mungkin karena abad sudah berganti; mungkin karena sikap ala grunge yang penuh ke'pundung'an (i hate myself, i hate my parents, i hate the world and i want to die) sudah secara harfiah so-last-decade; atau mungkin sesederhana aku sudah berhenti marah; aku berubah pikiran.

Hari ini ibuku bersih-bersih rumah lagi, masih sama seperti sepuluh-lima belas tahun lalu: sambil mengomel tentang betapa capai beliau, tapi ayah akan protes kalau pulang menemui rumah berantakan, dan kenapa anak-anak tidak membantu, ayo kosongkan meja ini dan bersihkan rak itu. Tapi hari ini aku menemukan hal baru - alasan yang berbeda atas tindakan beliau. Mungkin alih-alih penindasan, ini adalah pengertian yang mendalam. Jangan-jangan bukan kemunafikan; tapi toleransi dan keluwesan. Karena ibuku tidak takut pada ayahku, aku tahu pasti - aku tidak pernah melihat ayah memaksa atau mengancam ibu untuk membereskan rumah, dan andaipun beliau begitu, aku yakin ibuku akan berdiri tegak 50 senti di depan ayah dan berkata "tidak mau" sambil menatap lurus mata ke mata (dan menggenggam erat ulekan di tangan).

Kurasa, ibuku melakukannya karena cinta; karena ibuku tahu ayah sudah lelah bekerja dan ingin pulang ke rumah yang nyaman tempat beliau bisa beristirahat, maka ibu pun membuat rumah yang ayah inginkan. Ibu memberikan 'bidang berkarya'nya dan menenggang cara ayah, karena ibu ingin ayah senang.

Omelan ibu saat membersihkan rumah mengajariku bahwa mencintai pun kadang-kadang sulit dan butuh perjuangan, tapi bagaimanapun, cinta toh lebih dari rasa senang dan nyaman saat bersama seseorang. Cinta adalah komitmen untuk menyayangi (itu kata kerja aktif!) dan berbagi kehidupan dengan seseorang, menerima dan menenggang hal-hal paling menyebalkan dari dirinya, sehingga kamu bertumbuh menjadi orang yang lebih baik karena komitmen itu.

Beberapa tahun lalu aku berharap hubungan orang tuaku menjadi lebih terbuka dan penuh tindakan afeksi, seperti para orang tua 'ideal' di film-film keluarga Hollywood. Sekarang yang ingin kukatakan hanyalah aku bersyukur mereka tetap seperti dulu, dengan hubungan yang aneh tapi salng menjaga, indah dengan caranya sendiri.



ditulis oleh Kitara di Z

2 komentar:

  1. tulisan yang mengharukan....jadi ingat orang tua sendiri...mungkin tipikal cinta setelah menikah seperti itu ya, tidak banyak berkata-kata, tapi terwujud dalam perbuatan (knp terdengar seperti salah satu dasa darma pramuka ya) :D ..salam kenal..

    BalasHapus
  2. Wah...terima kasih apresiasinya! Senang...
    Iya, kalau udah lamaaa bareng sama seseorang, kayaknya emang tumbuh koneksi batin yang udah saling ngerti tanpa perlu ngomong..pengen ngerasain itu deh.
    Salam kenal juga!

    BalasHapus