Selasa, 28 Januari 2014

Petrichor, The Smell of Rain

Galia,

Kalau dipikir-pikir, jarang sekali bau punya nama sendiri. Seringnya nama bau mengacu pada benda yang menimbulkannya, misalkan "harum melati." Atau, nama bau mengacu pada sifat atau keadaan benda tersebut, misal "bau busuk."
Paling-paling hanya ada "wangi" "harum" dan "tidak sedap" yang tidak spesifik menunjuk pada satu jenis bau.
Tapi ada petrichor, bau khas yang muncul waktu mau turun hujan.
Nama yang aneh untuk suatu bau. Saat mendengar kata "petrichor", yang muncul dalam benakku adalah seekor ayam jago, atau seorang pangeran dari kisah dongeng. Kenapa ya?
 

Ayam jago yang membawa hujan.
Pangeran yang bisa berubah bentuk jadi ayam jago, dan pekerjaannya adalah membawa hujan...





Dahulu kala, di negeri yang jauh, tersebutlah suatu kerajaan indah dengan padang rumput yang ditumbuhi bunga-bunga kuning. Di tengah padang terdapat sebuah danau berair sangat jernih sehingga kau bisa melihat ikan-ikan di dasarnya. Sebuah pulau kecil mencuat di tengahnya, dan di sana berdirilah istana raja.

Raja dan ratu memiliki seorang anak yang mereka namai Petrichor. Walaupun ia seorang pangeran, penampilan Petrichor tidak berbeda dengan anak kecil biasa: pipinya bulat merah, bibirnya sering tersenyum, tangan dan kakinya montok. Kelakuannya pun seperti anak kecil biasa, menangis kalau mainannya rusak, kadang-kadang berbuat nakal, tetapi sebenarnya berhati baik.

Seperti anak kecil lainnya, Pangeran Petrichor juga menginginkan hewan peliharaan. Ratu yang bijak meminta Petrichor belajar makan dan mandi sendiri sebelum boleh memelihara hewan. Kata Ratu, "kalau sudah punya peliharaan, kamu harus bisa mengurusnya. Jadi belajarlah mengurus dirimu sendiri dulu."

Petrichor sangat ingin punya peliharaan, jadi ia berusaha sungguh-sungguh mengurus dirinya sendiri. Setiap pagi ia mandi sendiri, dan menolak disuapi. Dibungkusnya tongkol jagung dengan secarik kain, diberinya mata dari cengkeh, lalu ia pura-pura memberinya makan secara teratur serta membersihkan kandang si jagung.

Karena Pangeran Petrichor sudah berusaha dengan semangat, Raja dan Ratu menghadiahinya seekor ikan. Ikan ini adalah ikan tercantik di danau, tubuhnya berkilauan aneka warna jika tertimpa cahaya. Berenangnya lambat tapi anggun.

Petrichor sangat senang. Dipilihnya nama Bianglala untuk si ikan. Ia mencari wadah kaca paling besar dan indah yang ada di istana, diisinya dengan kerikil bulat serta tanaman air untuk rumah Bianglala. Airnya diambil langsung dari danau agar si ikan cepat merasa betah di rumah baru.

Setiap hari Pangeran Petrichor mengajak Bianglala bicara. Ia menceritakan dongeng-dongeng kerajaan, atau pengalaman sehari-hari, atau kisah khayalannya sendiri, atau rencana-rencana, apapun yang terpikir olehnya segera diceritakan pada si ikan. Tiap kali Petrichor bercerita, warna Bianglala akan menjadi semakin cerah seolah ia mengerti. Demikianlah eratnya persahabatan Pangeran Petrichor dan Bianglala.

Seperti segala hal di dunia, kebahagiaan pun tidak berlangsung selamanya. Apalagi karena usia ikan jauh lebih pendek dari manusia. Suatu pagi, saat Petrichor menghampiri wadah kaca Bianglala, ditemukannya si ikan terapung diam.

Petrichor memanggil dan mengetuk-ngetuk wadah kaca, tetapi Bianglala tetap diam. Dengan panik ia memanggil sang Ratu.

"Oh anakku Petrichor, Bianglala sudah pergi dari bumi," kata sang Ratu, "sekarang ia pergi ke langit dan bermain bersama ikan-ikan lainnya. Jangan khawatir, walaupun tak bisa bertemu denganmu lagi, ia tidak akan lupa padamu."

Petrichor pun menangis karena kehilangan temannya, tetapi ia mengerti bahwa Bianglala bahagia di langit sana. Setiap malam sebelum tidur, Petrichor melihat ke langit dan berbicara pada Bianglala seperti ketika si ikan masih hidup.

Waku pun berlalu...

Kerajaan dilanda kemarau panjang. Sudah berbulan-bulan hujan tidak turun, tak ada setitik pun awan di langit. Air danau semakin surut sehingga Raja dan Ratu khawatir rakyat mereka akan kekurangan air.

Pangeran Petrichor kini sudah tumbuh menjadi anak yang tampan. Walau tidak lagi berbicara pada Bianglala, ia masih terbiasa mendongak ke langit malam dan merenungi bintang-bintang. Namun akhir-akhir ini langit malam yang cerah tanpa awan membuatnya resah. Ia mengerti kesulitan yang sedang dialami negerinya, dan tak tahu harus melakukan apa.

Suatu malam di puncak musim kemarau, Petrichor memimpikan Bianglala. Bukannya berenang dengan gembira, Bianglala menggelepar-gelepar di kolam langit yang surut tak berair. Mimpi tersebut begitu nyata sehingga Petrichor terbangun sambil menangis.

Malam berikutnya, Petrichor terus memandangi langit sambil mendoakan sahabatnya. Ketika berada di antara lelap dan sadar, seberkas sinar bintang jatuh di kamar Petrichor dan menjelma seorang bijak berjubah biru keperakan.

"Pangeran kecil, aku mendengar doamu yang tak putus sejak semalam. Apakah yang meresahkan hatimu?" tanya orang bijak.

"Aku mengkhawatirkan nasib sahabatku, wahai Bapak Penjelmaan Bintang," jawab Petrichor, "ia kekeringan di kolam langit. Apa yang harus kulakukan?"

"Ada yang bisa kaulakukan, dan ini bisa menyelamatkan sahabatmu juga semua orang di negerimu," ujar orang bijak, "tetapi ini takkan mudah."

"Apapun yang bisa kulakukan akan aku usahakan, Bapak Penjelmaan Bintang!" seru Petrichor.

Orang Bijak itu mengulurkan sehelai bulu pada Petrichor. "Saat langit di ufuk timur mulai memucat, pasangkanlah bulu ini di rambutmu dan berkokoklah seperti ayam jantan untuk memanggil Sang Matahari. Ia akan bangun memenuhi panggilanmu. Saat berkas cahaya pertama Matahari menyorot, segeralah melompat ke dalamnya, akan kautemui anak-anak tangga menuju ke langit. Kau harus cepat menaikinya, karena Matahari akan semakin tinggi dan tangga akan semakin curam. Sesampainya di langit, isilah kolam langit dengan air untuk menolong sahabatmu."

"Ada satu hal yang harus kau pertimbangkan baik-baik," orang bijak mengingatkan. "Siapapun yang pergi ke langit tidak boleh kembali lagi, kau pun tidak terkecuali. Apakah kau masih mau melakukannya?"

Petrichor yang pemberani dan berhati baik tidak berpikir panjang untuk mengiyakan tantangan itu. Tanpa membuang waktu, diambilnya wadah kaca Bianglala yang kini kosong, lalu ia bergegas mengisinya dengan air yang tersisa di danau.

Mengikuti petunjuk orang bijak, ketika fajar merekah, Petrichor pun menaiki tangga Matahari menuju langit. Terjadi kehebohan di kerajaan ketika para penduduk terbangun dan melihat Petrichor berjalan di udara dalam berkas sinar Matahari.

Petrichor berbalik badan untuk melambai pada raja dan ratu. Hal ini menyebabkan seciprat air dari wadah kaca tumpah ke bumi nun jauh di bawah sana. Air itu membasahi tanah kering berdebu sehingga menguarkan wangi tanah basah, persis seperti aroma yang kau cium saat hujan akan datang.

"Ah, wangi ini pemberian Petrichor! Wangi Petrichor!" demikian seruan para penduduk kerajaan. Sejak saat itu, orang menyebut aroma yang muncul sebelum hujan sebagai Petrichor.

Setelah pendakian panjang, akhirnya Pangeran Petrichor mencapai puncak tangga Matahari... Ia sampai di negeri langit! Tepat di pusatnya tampak kolam langit yang ternyata kering seperti dalam mimpi Petrichor.

"Ooh.. Tak heran hujan tak kunjung turun, kolam ini kosong!" pikir Petrichor. Tanpa membuang waktu, diisinya kolam itu dengan air dari wadah kaca. Ajaib, wadah kaca yang kecil itu tak henti mengeluarkan air hingga kolam meluap menjadi hujan, mengakhiri kemarau panjang di kerajaan.

Dari balik lumpur muncullah Bianglala, berenang gembira di air jernih yang kini melimpah. Ia menari-nari menyapa Petrichor, dan mereka kembali menghabiskan waktu seperti dulu: Petrichor bercerita pada Bianglala, dan Bianglala menanggapi dengan berenang melenggok-lenggok, tubuhnya berwarna-warni memantulkan cahaya.

Karena terharu menyaksikan persahabatan mereka, Penguasa Langit menghadiahi Pangeran Petrichor istana yang indah di tepi kolam langit. Setiap kali Petrichor mengisi kolam dengan air jernih, Bianglala akan muncul dan menari-nari. Di bumi, kau akan melihatnya sebagai hujan yang diikuti kemunculan bianglala atau pelangi.





P.S. "Di antara lelap dan sadar" adalah frase dari lagu Di Ujung Malam (Payung Teduh).

P.S. P.S. Kenapa wadah kaca itu bisa mengeluarkan banyak air? Banyak penjelasan logis yang bisa kubuat, tetapi tidak perlu, bukan? Biarkan keajaiban tetap menjadi keajaiban, bagaimana kalau begitu?

Senin, 20 Januari 2014

Probabilitas



Ada yang begitu dekat tetapi tidak bersambut.
Ada yang saling bersambut tetapi selalu berselisih jalan.
Ada yang sesungguhnya bersambut tetapi selalu salah paham.
Dan ada yang bersambut, semoga tak berselisih jalan, tak perlu salah paham, sehingga dapat mendekat.

Cukup satu.

Kamis, 12 Desember 2013

Sang Kala



Kitara,

Hari ini aku berkenalan dengan Kala. Dia adalah dewa Hindu, Sang Penguasa Waktu. Dalam tradisi Hindu, setiap dewa punya karakter masing-masing, dan Kala digambarkan memiliki wajah yang menyeramkan, karena dia adalah dewa paling kuat - tak ada dewa lain yang bisa mengalahkannya.

Ya, semua makhluk yang hidup fana memahami sungguh kenyataan tentang kesementaraan mereka. Segala yang indah, kuat, muda, bahagia di dunia ini akan layu dan punah suatu saat.

Seram ya, Kitara?

Kala, Sang Waktu.. menakutkan seperti wajahnya.

Mulutnya menganga lebar menelan segalanya, termasuk apa-apa yang kita cintai dan ingin kita miliki selamanya.

Jadi sebagian orang memutuskan untuk melawan Kala. Membuat ramuan awet muda, mencari air mancur keabadian, berkhayal menjadi vampir yang tak bisa mati, atau highlander, atau peri, bangsa-bangsa abadi.

Cara yang lebih modern, kalau kamu suka - alat pacu jantung, rekayasa genetika, bedah plastik, facelift, menutup uban dengan cat rambut.

Apapun yang membuat Kala tak lagi bisa menyentuhmu, atau minimal kelihatan begitu.

Tapi orang-orang Hindu yang bijak itu tahu kebenarannya: tak ada dewa yang bisa mengalahkan Kala. Tak ada makhluk fana yang bisa menang melawan Sang Waktu.

Kitara,

Aku bertanya-tanya, bagaimana seandainya orang Hindu menggambar Kala sebagai kakek tua bijak berwajah ramah.

Karena, hmm.. mungkin Sang Waktu seharusnya tidak menakutkan.

Tidakkah lelah kalau kehidupan tidak punya akhir? Setelah kamu memiliki segalanya, mempelajari segalanya, pergi ke semua tempat yang kauinginkan, menghabiskan keabadian bersama cinta sejatimu..

Lalu apa?

Kebosanan abadi. Tak ada lagi yang berharga, karena segalanya pasti bisa dicapai jika kamu punya cukup banyak waktu.

Dan kesedihan apapun yang kau rasakan, derita apapun yang kau tanggung, akan menjadi bebanmu sampai waktu yang tak terbatas.

Kematian memang menakutkan, tetapi Keabadian lebih tak tertahankan. Tidakkah pada akhirnya, semua orang akan mengiba-iba minta nyawanya diambil?

Kalau aku boleh menggambar ulang Kala, aku akan membuatnya jadi raksasa seram dengan tangan yang lembut, dan orang-orang lelah tertidur dengan wajah senyum dalam gendongannya.

Kitara,

Mungkin lebih baik menerima kenyataan bahwa Kala akan mengalahkanku. Yang lebih penting bagiku, mengerahkan segenap diriku dalam pertarungan itu. Agar alam semesta memberiku standing applause atas pertandingan yang hebat.



Salam.
Galia


Catatan: Kala atau Batara Kala adalah tokoh dalam mitos dewa-dewi Hindu yang melambangkan waktu. Ia digambarkan sebagai raksasa menyeramkan dan reliefnya seringkali terpahat di atas pintu candi (mengapa?). Relief Kala juga ditemukan bersanding dengan arsitektur kolonial beberapa bangunan heritage, di antaranya Gedung Bioskop Majestik (Bandung), Landmark (Bandung), Lawang Sewu (Semarang)

Sumber gambar: wikipedia.org

Kamis, 17 Oktober 2013

Aku yang akan menjadi kismis dalam rotimu hari ini



Kitara,

Jangan bersedih lagi, karena aku akan memberimu cerita tentang makanan kesukaanmu.
Andai hidup kita gambarkan sebagai sebongkah roti, maka kebahagiaan seperti kismis yang tersebar acak di dalamnya.
Kismis di dalam roti adalah hadiah-hadiah kecil kehidupan, letupan rasa yang membuat pengalaman makan rotimu menjadi lebih menyenangkan.
Seperti berkenalan dengan teman baru yang minatnya sama denganmu.
Atau tiba-tiba menemukan tempat berpemandangan indah.
Atau seseorang tiba-tiba menghadiahimu topi yang kauinginkan.
Begitulah, kau paham kan?
Hadiah-hadiah ini tersebar acak dan tak teramalkan, tetapi semua orang memiliki kismis dalam rotinya masing-masing.
Kenapa tidak bahagia?
Mungkin karena menginginkan lebih banyak kismis dalam roti kita. Atau menginginkan kismis itu terletak di sebelah sini, bukan di sana.
Mungkin karena tak sadar bahwa kismis hanyalah pemanis.
Mungkin karena lupa bahwa roti itupun sudah merupakan berkah.
Kitara, kebahagiaan adalah selalu mengingat bahwa kamu sudah memiliki sebongkah roti untuk dimakan, lalu terkejut dan makin bersyukur saat menemukan kismis.
Sekarang berdandanlah yang manis karena sore ini cerah. Kita akan berjalan kaki ke toko roti di ujung jalan, membeli dua potong roti kismis lalu menikmati matahari terbenam di taman. Bagaimana menurutmu?




Salam,
Galia



- terinspirasi dari kata-kata H.P. tentang kebahagiaan

Senin, 19 Agustus 2013

Kehidupan Pejalan



Kepada sahabatku,
Kitara
di kota cerita.


Kitara,

Aku sudah baca buku yang kamu sarankan. Kubaca tanpa henti selama dua hari, lalu buku itu menghantuiku sampai sekarang. Seminggu terakhir ini benakku riuh dipenuhi gagasan yang akan membuatku meledak kalau tidak segera dibagi. Karena kamu yang membawaku pada buku itu, kupikir kamulah yang harus bertanggung jawab menampung luapan gagasanku. Nah, selamat bertanggung jawab.

Seperti kamu bilang, penulis buku ini seorang pejalan - dia menuliskan renungan dan pelajaran yang ditemuinya selama bertualang. Sungguh benar kata penulis kisah petualangan klasik itu (Mark Twain, bukan?) bahwa perjalanan adalah musuh pikiran sempit, karena orang ini sungguh bijak. Tidak sekadar berpengetahuan tetapi bijak, kau tahu kan maksudku, kadang seseorang mengetahui banyak hal tetapi tidak tepat menyikapi dan mengolahnya sehingga entah pengetahuan itu menjadi percuma atau menjadi kerugian bagi umat manusia. Sudah terlalu banyak orang yang tahu banyak tanpa menjadi bijak, dan orang ini bukan salah satu di antaranya.

Satu gagasan yang kupetik dari buku ini, Kitara, adalah betapa sedikit sesungguhnya kebutuhan hidup seseorang. Sebagai pejalan dia seringkali pergi selama berbulan-bulan dengan hanya menyandang satu ransel - menumpukan seluruh hidup pada ransel itu dan kemampuan diri untuk bertahan hidup. Dia tidur di emper toko, bandara, masjid, hotel murah, tenda, taman, di manapun. Dia makan apapun yang bisa ditemui di tempatnya berada, dan semakin lama semakin mahir memilih makanan yang aman dan tidak aman untuk perutnya (kuduga perutnya pun semakin toleran terhadap aneka jenis makanan). Dan ketika tersesat, kadang tanpa penguasaan terhadap bahasa setempat, dia mengandalkan peta, bahasa isyarat dan keberuntungan - suatu kegilaan yang selalu kamu temui dalam diri mereka yang berani melangkah keluar dari zona nyaman.

Lalu kita kembali pada ransel, ransel pejalan ini yang membuatku kagum karena di dalamnya terdapat segala hal yang dibutuhkan satu orang untuk bertahan hidup. Maksudku, Kitara, cukup satu ransel! Aku memiliki koleksi buku yang memenuhi ruangan dari lantai sampai ke langit-langit, lalu beberapa orang temanku punya rumah yang sangat besar dan masih menganggapnya kekecilan. Aku ingat salah satu teman kecil kita, Ketik Cepat, she just never have enough of shoes. Dan beberapa orang kaya di Maladewa sini, yang bahkan memiliki sebuah pulau utuh untuk dirinya sendiri, tetapi masih juga merasa kurang. Kau lihat, ketika manusia membiarkan dirinya, hasrat mereka akan kepemilikan bisa mengembang sampai entah seberapa besar. Lalu kamu jadi bertanya, "seberapa cukupkah 'cukup'?"

Bagiku ransel itu melambangkan tamparan keras bagi kemanusiaan karena satu fakta: seseorang bisa hidup berbulan-bulan hanya dengan kepemilikan sebanyak satu ransel, dan dia sesungguhnya bisa terus hidup seperti itu bertahun-tahun lagi, mungkin sampai akhir hayatnya. Itulah 'cukup' yang sejati - bare essentials, hal-hal inti yang kita butuhkan untuk hidup. Not really much, actually.

Selebihnya adalah apa yang dia sebut sebagai "kegenitan dunia" - sekadar bumbu kehidupan, yang telah dia tinggalkan (tanpa membuat kebahagiaan hidupnya berkurang sedikitpun!) dan dia gantikan dengan petualangan.

Lalu aku jadi berpikir, Kitara, tentang cara hidup yang membawa kita pada keinginan atas kepemilikan yang demikian banyak. Bayangkan setiap manusia adalah pejalan dalam kehidupannya, terlahir dengan satu otak untuk menampung pikiran dan pembelajaran, satu perut untuk menampung makanan, satu hati untuk merasa dan menyayangi, dua kaki untuk berjalan dan dua tangan untuk bekerja - ransel-ransel dalam tubuh kita. Kita terlahir tanpa apapun selain ransel-ransel itu, yang berfungsi penuh dan siap diisi. Seiring perjalanan hidup, kita memungut berbagai hal: ingatan, pengetahuan, pengalaman, mimpi, cermin sosial, hasrat.. di saat yang sama juga menambah kapasitas ransel hidup kita dengan ransel-ransel buatan: kantong keresek, tas tangan, tas laptop, backpack, mobil, rumah, pulau, negara.. Dan kita menemui bahwa ransel-ransel buatan ini bisa terus kita tambah, terus, terus, terus...

Sampai kapan?

Para pejalan memahami suatu hal yang telah jarang diingat umat manusia saat ini: sebagai pejalan kehidupan, semakin banyak yang kau miliki, semakin berat bebanmu. Semakin berat bebanmu, semakin sulit dan melelahkan bagimu untuk terus berjalan.

Agar bisa berjalan dengan kuat dan gembira, kau harus mengurangi beban. Travelling light.

Semua nasihat klise tentang hidup sehat dan baik itu menjadi masuk akal, Kitara, kalau dilihat dari sudut pandang ini. Perhatikan:

Berpuasalah, makanlah hingga dua pertiga kenyang - kurangi beban perutmu.

Pilihlah informasi yang benar-benar penting dan bermanfaat - kurangi beban otakmu.

Memaafkan, memilih kebahagiaan, berserah pada Daya yang Maha Besar - kurangi beban hatimu.

Jangan berusaha mengerjakan semua hal sendirian, biarkan orang lain membantumu - kurangi beban tanganmu.

Batasi kepemilikan, banyak-banyak berbagi, jangan melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan - kurangi beban hidupmu.

Menurut hematku, pepatah klise "kekayaan adalah cobaan" sungguh masuk akal, karena seseorang yang mampu membeli lebih dan lebih lagi ransel ekstra (dan membayar porter untuk mengangkutnya) akan lebih sulit menyadari batas. Suatu pagi ia akan terbangun dalam keadaan bangkrut, tidak ada porter, dan seluruh kepemilikannya menggunung tinggi di sisi tempat tidur.

Kau tahu Kitara, demi kemudahan dirinya sendiri, sang pejalan tidak membawa lebih dari satu ransel. Setiap barang baru yang dia miliki adalah tambahan beban, maka untuk membuat perjalanannya tetap ringan, dia harus memilih. Apakah barang baru ini layak membebaniku? Adakah barang lama yang bisa kubuang agar ada tempat untuk barang baru?

Agak mirip hidup, kan? Untuk setiap hal baru yang kau dapat, ada hal lama yang kau tinggalkan. Untuk setiap berkah, ada harga yang harus dibayar. Sebaliknya jika kau memilih untuk meninggalkan sesuatu yang telah usang, kau akan punya ruang dalam ranselmu - dalam hidupmu - untuk sesuatu yang baru.

Jadi, sebagai pejalan kehidupan, ini pilihan bebas. Kau bisa punya banyak hal untuk dibanggakan dan kerepotan membawanya sepanjang perjalanan, atau kau bawa sesuai kemampuan dan menikmati perjalanan sepenuhnya.

Nah, karena kau sudah bertanggung jawab, aku akan memberimu sebuah lagu, Kitara. Cukup dalam tulisan, bukan CD yang akan menambah beban kepemilikanmu. Hahaha.
Travelling Light 

Kapan kita bertualang lagi?



Salam,

Galia
Masih di Maladewa, belum tenggelam.


Foto oleh R.H.

Jumat, 16 November 2012

Tentang Pertemanan


Alkisah ada seorang kapten kecil di kapal kecil, berlayar di tengah lautan luas. Matanya menatap jauh ke cakrawala, mencari pulau harta. Seekor lumba-lumba datang dan berenang di samping kapalnya. "Kamu sedang apa? Main yuk!" sapa lumba-lumba. "Aku sedang mencari harta karun. Emas, mirah delima, mutiara dalam peti, terkubur enam kaki di bawah pasir," kapten kecil melirik sebentar ke lumba-lumba, lalu kembali memusatkan pandangan ke cakrawala. "Kenapa kamu ingin mencarinya?" tanya lumba-lumba sambil berenang memutari kapal. "Aku pelaut, pekerjaanku mencari harta karun. Aku ingin menemukan peti terbesar yang pernah dikubur orang, dan kata mereka peti itu ada di Pulau Selatan, di sana," kapten kecil menunjuk searah pandangan matanya. "Kenapa itu penting?" tanya lumba-lumba. "Karena kita bisa mendapatkan banyak hal. Aku bisa makan-minum dengan enak, berpesta, membeli kapal yang lebih besar lagi." "Untuk apa punya kapal besar?" tanya lumba-lumba. Kapten kecil menghela nafas kesal. "Hmmh, kamu ini banyak tanya. Sudah dulu, aku harus memeriksa peta." "Oh, baiklah, sampai jumpa!" lumba-lumba berenang pergi. Esok harinya lumba-lumba datang lagi. "Kamu sedang apa, main yuk! Lihat, aku bisa begini," lumba-lumba melompat tinggi dan berjungkir balik di sisi kapal. Kapten kecil, yang matanya terus tertuju ke cakrawala, hanya melirik sebentar. "Hmm, ya, ya. Hebat." ujarnya datar. Keesokan harinya, lumba-lumba kembali datang bersama seekor temannya. Mereka berlomba renang di sisi kapal, melompat-lompat, berjumpalitan, mengejar serombongan ikan. Kapten kecil sebenarnya merasa terhibur dengan ulah para lumba-lumba itu, tetapi dia terlalu sibuk mengemudikan kapal, memeriksa peta, memperbaiki layar, sehingga ia tidak ikut bermain. Demikianlah tiap hari lumba-lumba datang mengajaknya bermain, dan kapten kecil mengabaikannya. "Hartaku menunggu. Tak bisa membuang-buang waktu bermain denganmu." "Kenapa kamu pikir bermain itu membuang waktu?" tanya lumba-lumba, matanya berkilau di bawah matahari. Kapten kecil memutar mata dan kembali menekuni peta. Hingga suatu hari. Nun di perbatasan langit dan laut, muncul sebongkah daratan yang tumbuh membesar. Kapten kecil melompat gembira dan menambah laju kapalnya. Daratan itu semakin dekat, semakin besar hingga tampak seluruh pulau harta yang diidamkan sang kapten. Kapal berlabuh, kapten kecil segera melompat turun dengan seikat peralatan menggali. Di sana, tepat di tengah pulau, kapten menggali, menggali, menggali hingga sekopnya menumbuk benda keras. Peti harta! Akhirnya! Kapten kecil melompat-lompat gembira, bersorak-sorai. Akhirnya mimpinya tercapai! Ia pun berlari ke pantai, mencari lumba-lumba. Sekarang dia bisa bebas bermain sampai kapanpun! Tetapi di pantai, kapten kecil tertegun. Lumba-lumba tidak ada. "Ke mana dia? Hei! Ayo main! Sekarang aku sudah tidak sibuk!" panggil kapten kecil. "Dia sudah pergi," kata sebuah suara dari atas kepalanya. Kapten kecil menengadah, ternyata seekor burung camar. "Aku melihat kapalmu berlayar cepat sekali, dan kawanmu tertinggal. Keterlaluan sekali, ia berenang menempuh jarak begitu jauh untuk menemanimu, dan kamu meninggalkan dia," kata camar. "Tapi.. astaga, aku tidak ingat sama sekali! Aku terlalu bersemangat menemukan hartaku!" seru kapten kecil. "Di mana dia sekarang? Tolong panggil dia agar kembali!" "Terlambat. Tadi beberapa lumba-lumba menjemputnya, dan mereka berenang ke Laut Barat mengejar kawanan ikan hering. Ia tampak sedih, tetapi teman-temannya berenang di sisinya sambil menghibur. Ia akan lebih bahagia bersama mereka." "Tapi aku sekarang sudah bisa bermain bersamanya," sesal kapten kecil. "Begitulah," camar mengangkat bahu (sebentar, apa camar punya bahu? Yah pokoknya semacam itu), "dalam hidup, kadang orang terlalu sibuk mencari peti harta. Mereka menatap lurus ke depan, memacu kapal, meninggalkan teman-teman. Kalau kau cukup beruntung mendapatkan teman lain, semoga kamu ingat bahwa mereka pun bisa pergi jika kau tinggalkan." Lalu ia terbang, meninggalkan kapten kecil termangu di samping peti hartanya.

Rabu, 15 Agustus 2012

Kisah Pengembara dan Sekuntum Bunga, part 2


...bunga kecil menunduk sedih.

"mengapa kau harus pergi?" protesnya pelan.

"kata para pedagang yang melayari Laut selatan, di dunia ini segalanya punya harga. perpisahan adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah pertemuan."

"mengapa harus begitu?"

"mengapa matahari selalu sembunyi di malam hari?"

"itu bukan jawaban."

sang pengembara terdiam.

"karena aku tak punya jawabannya," akhirnya ia mengakui, "tetapi aku punya satu kisah terakhir untukmu."

Lalu sang pengembara berkisah tentang suku di negeri barat yang percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan, bagaimana mereka memilih kata dengan cermat untuk menciptakan kehidupan yang mereka idamkan.

"jika suku itu benar, jika kata-kata memiliki kekuatan, lebih baik mengucapkan sampai jumpa lagi daripada selamat berpisah," ujar pengembara.

"jadi sampai jumpa lagi, bunga kecil. kalau aku kembali, akan ada segudang cerita baru, untukmu."

...dan dengan kata-kata itu, sang pengembara pun melangkah pergi.

sedang sang bunga yang kini merekah terbuka, dan jantungnya berdenyut untuk sang pengembara?

sehari, seminggu, sebulan, berbulan berlalu.

mungkin ia merasa hampa, seperti yang kamu rasakan kalau kehilangan seseorang yang membuat jantungmu berdenyut lebih keras.

mungkin dia menangis diam-diam, di malam hari, dan menyamarkan air matanya di antara embun.

mungkin kekecewaan membuatnya tak bisa tersenyum sehingga helai mahkotanya memerah gelap.

atau mungkin ia tidak merasa apa-apa, karena dia kan sekuntum bunga.

tentang hal ini dia merahasiakannya dari dunia, dan mari kita hormati kehendak sang bunga untuk menyimpan sepotong cerita dalam dirinya sendiri.

dan terima kasih atas keberadaan waktu, yang memungkinkan cerita terus berlanjut. karena waktu membawa pagi yang cerah. juga malam purnama berbintang. dan hujan gerimis dan pelangi.

dan setiap saat, jantung sang bunga mengalami semua, karena tak ada lagi helai mahkota yang melindunginya. ia memerah terpanggang matahari, menggigil dalam udara dinihari, basah kuyup oleh hujan badai, mengering kembali tertiup angin sepoi.

lalu, pada suatu malam, mimpi bunga kecil terusik oleh seruan kagum seseorang.

"astaga, luar biasa!"

si bunga membuka sebelah mata dengan enggan, "siapa itu?"

ternyata seekor kucing gagah berpakaian hitam-hitam.

"begini, baru kali ini aku melihat jantung yang begitu indah!" ujar kucing, matanya berbinar-binar.

"apa maksudmu?" tanya bunga.

"kau lihatlah sendiri," kucing mengeluarkan sebatang cermin perak dari saku, lalu memegangnya pada sudut yang tepat agar bunga dapat berkaca.

di sana, di balik helai-helai mahkota bunga, terletak sebentuk jantung. namun ini bukan jantung merah muda malu-malu seperti saat bunga pertama merekah. jantung ini berwarna pelangi, bersinar dengan kerlipan bintang dan kehangatan matahari. jantung itu masih berdenyut.

bunga terperangah. "apa yang terjadi pada jantungku?"

"begini, jantung menyerap segala sesuatu yang menerpanya," ujar kucing. "sepanjang pengalamanku berbisnis dengan bunga-bunga, hanya jantungmu yang tak punya sehelaipun perlindungan, sehingga segalanya terserap penuh. demikianlah."

"terpapar tanpa perlindungan itu menyakitkan," kata bunga.

"terpapar tanpa perlindungan membuatmu cantik, lebih cantik dari semua bunga yang kukenal, demikianlah," balas kucing. "ijinkan aku mengajukan sebuah penawaran."

"apa itu?"

"begini, jantung seperti ini sangat langka. raja-raja akan memberikan separuh kerajaannya demi mendapatkan jantungmu. ini komoditas berharga. jika kau berikan jantungmu padaku, aku bersedia membayar harga berapapun dan memenuhi apapun keinginanmu, demikianlah."

"tapi apa yang dapat mereka lakukan dengan sebuah jantung?"

"mereka memasangnya dalam rongga di dada mereka."

"kenapa, apa mereka tak punya jantung sendiri?"

"hmm, entahlah.. mungkin mereka pernah punya. tapi begini, kau tahu, manusia harus hidup sesuai denyut jantungnya. mereka butuh berada dekat hal-hal yang membuat jantung mereka bergetar. banyak di antara mereka enggan menahan penderitaan yang diakibatkan hal-hal itu, jadi mereka menjauh. maka jantung mereka menyusut dan denyutnya makin lemah. suatu saat, jantung itu berhenti berdenyut sama sekali, lalu sebuah rongga hampa tumbuh dan memakannya. demikian adanya."

"jantungku masih berdenyut," kata bunga.

"yang membuatnya lebih mahal lagi!" kucing menggosok-gosok kedua tangannya.

"apakah jantungku akan dimakan oleh rongga itu?"

"begini, kau tahu, tak perlu memikirkan hal itu. bunga-bunga tidak butuh jantung. aku sudah bertransaksi dengan ribuan bunga. mereka semua hidup nyaman. tanpa jantung, mereka tak lagi menderita."

"jantungku masih berdenyut untuk seseorang," kata bunga.

"dan di manakah orang itu sekarang? mengapa ia tidak menjaga jantungmu baik-baik? kalau kau menitipkannya padaku, setidaknya akan ada yang merawat jantungmu, dan kau dan aku dapat untung besar. kita sama-sama menang, demikianlah."

"tapi tanpa orang itu, aku bahkan takkan tahu bahwa aku punya jantung!"

seru bunga. "Nah, sekarang pergilah. tak ada tawar-menawar lagi."

"kau yang rugi," kucing mengangkat bahu dan melenggang pergi.

....

(to be continued)