Senin, 19 Agustus 2013

Kehidupan Pejalan



Kepada sahabatku,
Kitara
di kota cerita.


Kitara,

Aku sudah baca buku yang kamu sarankan. Kubaca tanpa henti selama dua hari, lalu buku itu menghantuiku sampai sekarang. Seminggu terakhir ini benakku riuh dipenuhi gagasan yang akan membuatku meledak kalau tidak segera dibagi. Karena kamu yang membawaku pada buku itu, kupikir kamulah yang harus bertanggung jawab menampung luapan gagasanku. Nah, selamat bertanggung jawab.

Seperti kamu bilang, penulis buku ini seorang pejalan - dia menuliskan renungan dan pelajaran yang ditemuinya selama bertualang. Sungguh benar kata penulis kisah petualangan klasik itu (Mark Twain, bukan?) bahwa perjalanan adalah musuh pikiran sempit, karena orang ini sungguh bijak. Tidak sekadar berpengetahuan tetapi bijak, kau tahu kan maksudku, kadang seseorang mengetahui banyak hal tetapi tidak tepat menyikapi dan mengolahnya sehingga entah pengetahuan itu menjadi percuma atau menjadi kerugian bagi umat manusia. Sudah terlalu banyak orang yang tahu banyak tanpa menjadi bijak, dan orang ini bukan salah satu di antaranya.

Satu gagasan yang kupetik dari buku ini, Kitara, adalah betapa sedikit sesungguhnya kebutuhan hidup seseorang. Sebagai pejalan dia seringkali pergi selama berbulan-bulan dengan hanya menyandang satu ransel - menumpukan seluruh hidup pada ransel itu dan kemampuan diri untuk bertahan hidup. Dia tidur di emper toko, bandara, masjid, hotel murah, tenda, taman, di manapun. Dia makan apapun yang bisa ditemui di tempatnya berada, dan semakin lama semakin mahir memilih makanan yang aman dan tidak aman untuk perutnya (kuduga perutnya pun semakin toleran terhadap aneka jenis makanan). Dan ketika tersesat, kadang tanpa penguasaan terhadap bahasa setempat, dia mengandalkan peta, bahasa isyarat dan keberuntungan - suatu kegilaan yang selalu kamu temui dalam diri mereka yang berani melangkah keluar dari zona nyaman.

Lalu kita kembali pada ransel, ransel pejalan ini yang membuatku kagum karena di dalamnya terdapat segala hal yang dibutuhkan satu orang untuk bertahan hidup. Maksudku, Kitara, cukup satu ransel! Aku memiliki koleksi buku yang memenuhi ruangan dari lantai sampai ke langit-langit, lalu beberapa orang temanku punya rumah yang sangat besar dan masih menganggapnya kekecilan. Aku ingat salah satu teman kecil kita, Ketik Cepat, she just never have enough of shoes. Dan beberapa orang kaya di Maladewa sini, yang bahkan memiliki sebuah pulau utuh untuk dirinya sendiri, tetapi masih juga merasa kurang. Kau lihat, ketika manusia membiarkan dirinya, hasrat mereka akan kepemilikan bisa mengembang sampai entah seberapa besar. Lalu kamu jadi bertanya, "seberapa cukupkah 'cukup'?"

Bagiku ransel itu melambangkan tamparan keras bagi kemanusiaan karena satu fakta: seseorang bisa hidup berbulan-bulan hanya dengan kepemilikan sebanyak satu ransel, dan dia sesungguhnya bisa terus hidup seperti itu bertahun-tahun lagi, mungkin sampai akhir hayatnya. Itulah 'cukup' yang sejati - bare essentials, hal-hal inti yang kita butuhkan untuk hidup. Not really much, actually.

Selebihnya adalah apa yang dia sebut sebagai "kegenitan dunia" - sekadar bumbu kehidupan, yang telah dia tinggalkan (tanpa membuat kebahagiaan hidupnya berkurang sedikitpun!) dan dia gantikan dengan petualangan.

Lalu aku jadi berpikir, Kitara, tentang cara hidup yang membawa kita pada keinginan atas kepemilikan yang demikian banyak. Bayangkan setiap manusia adalah pejalan dalam kehidupannya, terlahir dengan satu otak untuk menampung pikiran dan pembelajaran, satu perut untuk menampung makanan, satu hati untuk merasa dan menyayangi, dua kaki untuk berjalan dan dua tangan untuk bekerja - ransel-ransel dalam tubuh kita. Kita terlahir tanpa apapun selain ransel-ransel itu, yang berfungsi penuh dan siap diisi. Seiring perjalanan hidup, kita memungut berbagai hal: ingatan, pengetahuan, pengalaman, mimpi, cermin sosial, hasrat.. di saat yang sama juga menambah kapasitas ransel hidup kita dengan ransel-ransel buatan: kantong keresek, tas tangan, tas laptop, backpack, mobil, rumah, pulau, negara.. Dan kita menemui bahwa ransel-ransel buatan ini bisa terus kita tambah, terus, terus, terus...

Sampai kapan?

Para pejalan memahami suatu hal yang telah jarang diingat umat manusia saat ini: sebagai pejalan kehidupan, semakin banyak yang kau miliki, semakin berat bebanmu. Semakin berat bebanmu, semakin sulit dan melelahkan bagimu untuk terus berjalan.

Agar bisa berjalan dengan kuat dan gembira, kau harus mengurangi beban. Travelling light.

Semua nasihat klise tentang hidup sehat dan baik itu menjadi masuk akal, Kitara, kalau dilihat dari sudut pandang ini. Perhatikan:

Berpuasalah, makanlah hingga dua pertiga kenyang - kurangi beban perutmu.

Pilihlah informasi yang benar-benar penting dan bermanfaat - kurangi beban otakmu.

Memaafkan, memilih kebahagiaan, berserah pada Daya yang Maha Besar - kurangi beban hatimu.

Jangan berusaha mengerjakan semua hal sendirian, biarkan orang lain membantumu - kurangi beban tanganmu.

Batasi kepemilikan, banyak-banyak berbagi, jangan melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan - kurangi beban hidupmu.

Menurut hematku, pepatah klise "kekayaan adalah cobaan" sungguh masuk akal, karena seseorang yang mampu membeli lebih dan lebih lagi ransel ekstra (dan membayar porter untuk mengangkutnya) akan lebih sulit menyadari batas. Suatu pagi ia akan terbangun dalam keadaan bangkrut, tidak ada porter, dan seluruh kepemilikannya menggunung tinggi di sisi tempat tidur.

Kau tahu Kitara, demi kemudahan dirinya sendiri, sang pejalan tidak membawa lebih dari satu ransel. Setiap barang baru yang dia miliki adalah tambahan beban, maka untuk membuat perjalanannya tetap ringan, dia harus memilih. Apakah barang baru ini layak membebaniku? Adakah barang lama yang bisa kubuang agar ada tempat untuk barang baru?

Agak mirip hidup, kan? Untuk setiap hal baru yang kau dapat, ada hal lama yang kau tinggalkan. Untuk setiap berkah, ada harga yang harus dibayar. Sebaliknya jika kau memilih untuk meninggalkan sesuatu yang telah usang, kau akan punya ruang dalam ranselmu - dalam hidupmu - untuk sesuatu yang baru.

Jadi, sebagai pejalan kehidupan, ini pilihan bebas. Kau bisa punya banyak hal untuk dibanggakan dan kerepotan membawanya sepanjang perjalanan, atau kau bawa sesuai kemampuan dan menikmati perjalanan sepenuhnya.

Nah, karena kau sudah bertanggung jawab, aku akan memberimu sebuah lagu, Kitara. Cukup dalam tulisan, bukan CD yang akan menambah beban kepemilikanmu. Hahaha.
Travelling Light 

Kapan kita bertualang lagi?



Salam,

Galia
Masih di Maladewa, belum tenggelam.


Foto oleh R.H.

2 komentar:

  1. Berpuasalah, makanlah hingga dua pertiga kenyang - kurangi beban perutmu. --> iya nih, lagi bayar puasa :))

    Pilihlah informasi yang benar-benar penting dan bermanfaat - kurangi beban otakmu. --> unfollow orang2 yg terlalu cerewet dan tak berisi positif di timeline twitter :)))

    Memaafkan, memilih kebahagiaan, berserah pada Daya yang Maha Besar - kurangi beban hatimu. --> nah ini emang masih agak sulit :P

    Jangan berusaha mengerjakan semua hal sendirian, biarkan orang lain membantumu - kurangi beban tanganmu. --> hmm..."Bibiiiik..! ambilin minum...!" #eh

    Batasi kepemilikan, banyak-banyak berbagi, jangan melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan - kurangi beban hidupmu. --> yes yess :D

    Nicely written, Kandi.. eh..Galia...! :D
    salam buat Maladewa, someday I will be there! Amin..!

    BalasHapus
  2. Terimakasih Nona Ikansapi! Mari berkunjung ke Maladewa sebelum tenggelam :D

    Salam,
    Galia

    BalasHapus