Kamis, 12 Desember 2013

Sang Kala



Kitara,

Hari ini aku berkenalan dengan Kala. Dia adalah dewa Hindu, Sang Penguasa Waktu. Dalam tradisi Hindu, setiap dewa punya karakter masing-masing, dan Kala digambarkan memiliki wajah yang menyeramkan, karena dia adalah dewa paling kuat - tak ada dewa lain yang bisa mengalahkannya.

Ya, semua makhluk yang hidup fana memahami sungguh kenyataan tentang kesementaraan mereka. Segala yang indah, kuat, muda, bahagia di dunia ini akan layu dan punah suatu saat.

Seram ya, Kitara?

Kala, Sang Waktu.. menakutkan seperti wajahnya.

Mulutnya menganga lebar menelan segalanya, termasuk apa-apa yang kita cintai dan ingin kita miliki selamanya.

Jadi sebagian orang memutuskan untuk melawan Kala. Membuat ramuan awet muda, mencari air mancur keabadian, berkhayal menjadi vampir yang tak bisa mati, atau highlander, atau peri, bangsa-bangsa abadi.

Cara yang lebih modern, kalau kamu suka - alat pacu jantung, rekayasa genetika, bedah plastik, facelift, menutup uban dengan cat rambut.

Apapun yang membuat Kala tak lagi bisa menyentuhmu, atau minimal kelihatan begitu.

Tapi orang-orang Hindu yang bijak itu tahu kebenarannya: tak ada dewa yang bisa mengalahkan Kala. Tak ada makhluk fana yang bisa menang melawan Sang Waktu.

Kitara,

Aku bertanya-tanya, bagaimana seandainya orang Hindu menggambar Kala sebagai kakek tua bijak berwajah ramah.

Karena, hmm.. mungkin Sang Waktu seharusnya tidak menakutkan.

Tidakkah lelah kalau kehidupan tidak punya akhir? Setelah kamu memiliki segalanya, mempelajari segalanya, pergi ke semua tempat yang kauinginkan, menghabiskan keabadian bersama cinta sejatimu..

Lalu apa?

Kebosanan abadi. Tak ada lagi yang berharga, karena segalanya pasti bisa dicapai jika kamu punya cukup banyak waktu.

Dan kesedihan apapun yang kau rasakan, derita apapun yang kau tanggung, akan menjadi bebanmu sampai waktu yang tak terbatas.

Kematian memang menakutkan, tetapi Keabadian lebih tak tertahankan. Tidakkah pada akhirnya, semua orang akan mengiba-iba minta nyawanya diambil?

Kalau aku boleh menggambar ulang Kala, aku akan membuatnya jadi raksasa seram dengan tangan yang lembut, dan orang-orang lelah tertidur dengan wajah senyum dalam gendongannya.

Kitara,

Mungkin lebih baik menerima kenyataan bahwa Kala akan mengalahkanku. Yang lebih penting bagiku, mengerahkan segenap diriku dalam pertarungan itu. Agar alam semesta memberiku standing applause atas pertandingan yang hebat.



Salam.
Galia


Catatan: Kala atau Batara Kala adalah tokoh dalam mitos dewa-dewi Hindu yang melambangkan waktu. Ia digambarkan sebagai raksasa menyeramkan dan reliefnya seringkali terpahat di atas pintu candi (mengapa?). Relief Kala juga ditemukan bersanding dengan arsitektur kolonial beberapa bangunan heritage, di antaranya Gedung Bioskop Majestik (Bandung), Landmark (Bandung), Lawang Sewu (Semarang)

Sumber gambar: wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar