Galia,
Kalau dipikir-pikir, jarang sekali bau punya nama sendiri. Seringnya nama bau mengacu pada benda yang menimbulkannya, misalkan "harum melati." Atau, nama bau mengacu pada sifat atau keadaan benda tersebut, misal "bau busuk."
Paling-paling hanya ada "wangi" "harum" dan "tidak sedap" yang tidak spesifik menunjuk pada satu jenis bau.
Tapi ada petrichor, bau khas yang muncul waktu mau turun hujan.
Nama yang aneh untuk suatu bau. Saat mendengar kata "petrichor", yang muncul dalam benakku adalah seekor ayam jago, atau seorang pangeran dari kisah dongeng. Kenapa ya?
Ayam jago yang membawa hujan.
Pangeran yang bisa berubah bentuk jadi ayam jago, dan pekerjaannya adalah membawa hujan...
Dahulu kala, di negeri yang jauh, tersebutlah suatu kerajaan indah dengan padang rumput yang ditumbuhi bunga-bunga kuning. Di tengah padang terdapat sebuah danau berair sangat jernih sehingga kau bisa melihat ikan-ikan di dasarnya. Sebuah pulau kecil mencuat di tengahnya, dan di sana berdirilah istana raja.
Raja dan ratu memiliki seorang anak yang mereka namai Petrichor. Walaupun ia seorang pangeran, penampilan Petrichor tidak berbeda dengan anak kecil biasa: pipinya bulat merah, bibirnya sering tersenyum, tangan dan kakinya montok. Kelakuannya pun seperti anak kecil biasa, menangis kalau mainannya rusak, kadang-kadang berbuat nakal, tetapi sebenarnya berhati baik.
Seperti anak kecil lainnya, Pangeran Petrichor juga menginginkan hewan peliharaan. Ratu yang bijak meminta Petrichor belajar makan dan mandi sendiri sebelum boleh memelihara hewan. Kata Ratu, "kalau sudah punya peliharaan, kamu harus bisa mengurusnya. Jadi belajarlah mengurus dirimu sendiri dulu."
Petrichor sangat ingin punya peliharaan, jadi ia berusaha sungguh-sungguh mengurus dirinya sendiri. Setiap pagi ia mandi sendiri, dan menolak disuapi. Dibungkusnya tongkol jagung dengan secarik kain, diberinya mata dari cengkeh, lalu ia pura-pura memberinya makan secara teratur serta membersihkan kandang si jagung.
Karena Pangeran Petrichor sudah berusaha dengan semangat, Raja dan Ratu menghadiahinya seekor ikan. Ikan ini adalah ikan tercantik di danau, tubuhnya berkilauan aneka warna jika tertimpa cahaya. Berenangnya lambat tapi anggun.
Petrichor sangat senang. Dipilihnya nama Bianglala untuk si ikan. Ia mencari wadah kaca paling besar dan indah yang ada di istana, diisinya dengan kerikil bulat serta tanaman air untuk rumah Bianglala. Airnya diambil langsung dari danau agar si ikan cepat merasa betah di rumah baru.
Setiap hari Pangeran Petrichor mengajak Bianglala bicara. Ia menceritakan dongeng-dongeng kerajaan, atau pengalaman sehari-hari, atau kisah khayalannya sendiri, atau rencana-rencana, apapun yang terpikir olehnya segera diceritakan pada si ikan. Tiap kali Petrichor bercerita, warna Bianglala akan menjadi semakin cerah seolah ia mengerti. Demikianlah eratnya persahabatan Pangeran Petrichor dan Bianglala.
Seperti segala hal di dunia, kebahagiaan pun tidak berlangsung selamanya. Apalagi karena usia ikan jauh lebih pendek dari manusia. Suatu pagi, saat Petrichor menghampiri wadah kaca Bianglala, ditemukannya si ikan terapung diam.
Petrichor memanggil dan mengetuk-ngetuk wadah kaca, tetapi Bianglala tetap diam. Dengan panik ia memanggil sang Ratu.
"Oh anakku Petrichor, Bianglala sudah pergi dari bumi," kata sang Ratu, "sekarang ia pergi ke langit dan bermain bersama ikan-ikan lainnya. Jangan khawatir, walaupun tak bisa bertemu denganmu lagi, ia tidak akan lupa padamu."
Petrichor pun menangis karena kehilangan temannya, tetapi ia mengerti bahwa Bianglala bahagia di langit sana. Setiap malam sebelum tidur, Petrichor melihat ke langit dan berbicara pada Bianglala seperti ketika si ikan masih hidup.
Waku pun berlalu...
Kerajaan dilanda kemarau panjang. Sudah berbulan-bulan hujan tidak turun, tak ada setitik pun awan di langit. Air danau semakin surut sehingga Raja dan Ratu khawatir rakyat mereka akan kekurangan air.
Pangeran Petrichor kini sudah tumbuh menjadi anak yang tampan. Walau tidak lagi berbicara pada Bianglala, ia masih terbiasa mendongak ke langit malam dan merenungi bintang-bintang. Namun akhir-akhir ini langit malam yang cerah tanpa awan membuatnya resah. Ia mengerti kesulitan yang sedang dialami negerinya, dan tak tahu harus melakukan apa.
Suatu malam di puncak musim kemarau, Petrichor memimpikan Bianglala. Bukannya berenang dengan gembira, Bianglala menggelepar-gelepar di kolam langit yang surut tak berair. Mimpi tersebut begitu nyata sehingga Petrichor terbangun sambil menangis.
Malam berikutnya, Petrichor terus memandangi langit sambil mendoakan sahabatnya. Ketika berada di antara lelap dan sadar, seberkas sinar bintang jatuh di kamar Petrichor dan menjelma seorang bijak berjubah biru keperakan.
"Pangeran kecil, aku mendengar doamu yang tak putus sejak semalam. Apakah yang meresahkan hatimu?" tanya orang bijak.
"Aku mengkhawatirkan nasib sahabatku, wahai Bapak Penjelmaan Bintang," jawab Petrichor, "ia kekeringan di kolam langit. Apa yang harus kulakukan?"
"Ada yang bisa kaulakukan, dan ini bisa menyelamatkan sahabatmu juga semua orang di negerimu," ujar orang bijak, "tetapi ini takkan mudah."
"Apapun yang bisa kulakukan akan aku usahakan, Bapak Penjelmaan Bintang!" seru Petrichor.
Orang Bijak itu mengulurkan sehelai bulu pada Petrichor. "Saat langit di ufuk timur mulai memucat, pasangkanlah bulu ini di rambutmu dan berkokoklah seperti ayam jantan untuk memanggil Sang Matahari. Ia akan bangun memenuhi panggilanmu. Saat berkas cahaya pertama Matahari menyorot, segeralah melompat ke dalamnya, akan kautemui anak-anak tangga menuju ke langit. Kau harus cepat menaikinya, karena Matahari akan semakin tinggi dan tangga akan semakin curam. Sesampainya di langit, isilah kolam langit dengan air untuk menolong sahabatmu."
"Ada satu hal yang harus kau pertimbangkan baik-baik," orang bijak mengingatkan. "Siapapun yang pergi ke langit tidak boleh kembali lagi, kau pun tidak terkecuali. Apakah kau masih mau melakukannya?"
Petrichor yang pemberani dan berhati baik tidak berpikir panjang untuk mengiyakan tantangan itu. Tanpa membuang waktu, diambilnya wadah kaca Bianglala yang kini kosong, lalu ia bergegas mengisinya dengan air yang tersisa di danau.
Mengikuti petunjuk orang bijak, ketika fajar merekah, Petrichor pun menaiki tangga Matahari menuju langit. Terjadi kehebohan di kerajaan ketika para penduduk terbangun dan melihat Petrichor berjalan di udara dalam berkas sinar Matahari.
Petrichor berbalik badan untuk melambai pada raja dan ratu. Hal ini menyebabkan seciprat air dari wadah kaca tumpah ke bumi nun jauh di bawah sana. Air itu membasahi tanah kering berdebu sehingga menguarkan wangi tanah basah, persis seperti aroma yang kau cium saat hujan akan datang.
"Ah, wangi ini pemberian Petrichor! Wangi Petrichor!" demikian seruan para penduduk kerajaan. Sejak saat itu, orang menyebut aroma yang muncul sebelum hujan sebagai Petrichor.
Setelah pendakian panjang, akhirnya Pangeran Petrichor mencapai puncak tangga Matahari... Ia sampai di negeri langit! Tepat di pusatnya tampak kolam langit yang ternyata kering seperti dalam mimpi Petrichor.
"Ooh.. Tak heran hujan tak kunjung turun, kolam ini kosong!" pikir Petrichor. Tanpa membuang waktu, diisinya kolam itu dengan air dari wadah kaca. Ajaib, wadah kaca yang kecil itu tak henti mengeluarkan air hingga kolam meluap menjadi hujan, mengakhiri kemarau panjang di kerajaan.
Dari balik lumpur muncullah Bianglala, berenang gembira di air jernih yang kini melimpah. Ia menari-nari menyapa Petrichor, dan mereka kembali menghabiskan waktu seperti dulu: Petrichor bercerita pada Bianglala, dan Bianglala menanggapi dengan berenang melenggok-lenggok, tubuhnya berwarna-warni memantulkan cahaya.
Karena terharu menyaksikan persahabatan mereka, Penguasa Langit menghadiahi Pangeran Petrichor istana yang indah di tepi kolam langit. Setiap kali Petrichor mengisi kolam dengan air jernih, Bianglala akan muncul dan menari-nari. Di bumi, kau akan melihatnya sebagai hujan yang diikuti kemunculan bianglala atau pelangi.
P.S. "Di antara lelap dan sadar" adalah frase dari lagu Di Ujung Malam (Payung Teduh).
P.S. P.S. Kenapa wadah kaca itu bisa mengeluarkan banyak air? Banyak penjelasan logis yang bisa kubuat, tetapi tidak perlu, bukan? Biarkan keajaiban tetap menjadi keajaiban, bagaimana kalau begitu?
Kalau dipikir-pikir, jarang sekali bau punya nama sendiri. Seringnya nama bau mengacu pada benda yang menimbulkannya, misalkan "harum melati." Atau, nama bau mengacu pada sifat atau keadaan benda tersebut, misal "bau busuk."
Paling-paling hanya ada "wangi" "harum" dan "tidak sedap" yang tidak spesifik menunjuk pada satu jenis bau.
Tapi ada petrichor, bau khas yang muncul waktu mau turun hujan.
Nama yang aneh untuk suatu bau. Saat mendengar kata "petrichor", yang muncul dalam benakku adalah seekor ayam jago, atau seorang pangeran dari kisah dongeng. Kenapa ya?
Ayam jago yang membawa hujan.
Pangeran yang bisa berubah bentuk jadi ayam jago, dan pekerjaannya adalah membawa hujan...
Dahulu kala, di negeri yang jauh, tersebutlah suatu kerajaan indah dengan padang rumput yang ditumbuhi bunga-bunga kuning. Di tengah padang terdapat sebuah danau berair sangat jernih sehingga kau bisa melihat ikan-ikan di dasarnya. Sebuah pulau kecil mencuat di tengahnya, dan di sana berdirilah istana raja.
Raja dan ratu memiliki seorang anak yang mereka namai Petrichor. Walaupun ia seorang pangeran, penampilan Petrichor tidak berbeda dengan anak kecil biasa: pipinya bulat merah, bibirnya sering tersenyum, tangan dan kakinya montok. Kelakuannya pun seperti anak kecil biasa, menangis kalau mainannya rusak, kadang-kadang berbuat nakal, tetapi sebenarnya berhati baik.
Seperti anak kecil lainnya, Pangeran Petrichor juga menginginkan hewan peliharaan. Ratu yang bijak meminta Petrichor belajar makan dan mandi sendiri sebelum boleh memelihara hewan. Kata Ratu, "kalau sudah punya peliharaan, kamu harus bisa mengurusnya. Jadi belajarlah mengurus dirimu sendiri dulu."
Petrichor sangat ingin punya peliharaan, jadi ia berusaha sungguh-sungguh mengurus dirinya sendiri. Setiap pagi ia mandi sendiri, dan menolak disuapi. Dibungkusnya tongkol jagung dengan secarik kain, diberinya mata dari cengkeh, lalu ia pura-pura memberinya makan secara teratur serta membersihkan kandang si jagung.
Karena Pangeran Petrichor sudah berusaha dengan semangat, Raja dan Ratu menghadiahinya seekor ikan. Ikan ini adalah ikan tercantik di danau, tubuhnya berkilauan aneka warna jika tertimpa cahaya. Berenangnya lambat tapi anggun.
Petrichor sangat senang. Dipilihnya nama Bianglala untuk si ikan. Ia mencari wadah kaca paling besar dan indah yang ada di istana, diisinya dengan kerikil bulat serta tanaman air untuk rumah Bianglala. Airnya diambil langsung dari danau agar si ikan cepat merasa betah di rumah baru.
Setiap hari Pangeran Petrichor mengajak Bianglala bicara. Ia menceritakan dongeng-dongeng kerajaan, atau pengalaman sehari-hari, atau kisah khayalannya sendiri, atau rencana-rencana, apapun yang terpikir olehnya segera diceritakan pada si ikan. Tiap kali Petrichor bercerita, warna Bianglala akan menjadi semakin cerah seolah ia mengerti. Demikianlah eratnya persahabatan Pangeran Petrichor dan Bianglala.
Seperti segala hal di dunia, kebahagiaan pun tidak berlangsung selamanya. Apalagi karena usia ikan jauh lebih pendek dari manusia. Suatu pagi, saat Petrichor menghampiri wadah kaca Bianglala, ditemukannya si ikan terapung diam.
Petrichor memanggil dan mengetuk-ngetuk wadah kaca, tetapi Bianglala tetap diam. Dengan panik ia memanggil sang Ratu.
"Oh anakku Petrichor, Bianglala sudah pergi dari bumi," kata sang Ratu, "sekarang ia pergi ke langit dan bermain bersama ikan-ikan lainnya. Jangan khawatir, walaupun tak bisa bertemu denganmu lagi, ia tidak akan lupa padamu."
Petrichor pun menangis karena kehilangan temannya, tetapi ia mengerti bahwa Bianglala bahagia di langit sana. Setiap malam sebelum tidur, Petrichor melihat ke langit dan berbicara pada Bianglala seperti ketika si ikan masih hidup.
Waku pun berlalu...
Kerajaan dilanda kemarau panjang. Sudah berbulan-bulan hujan tidak turun, tak ada setitik pun awan di langit. Air danau semakin surut sehingga Raja dan Ratu khawatir rakyat mereka akan kekurangan air.
Pangeran Petrichor kini sudah tumbuh menjadi anak yang tampan. Walau tidak lagi berbicara pada Bianglala, ia masih terbiasa mendongak ke langit malam dan merenungi bintang-bintang. Namun akhir-akhir ini langit malam yang cerah tanpa awan membuatnya resah. Ia mengerti kesulitan yang sedang dialami negerinya, dan tak tahu harus melakukan apa.
Suatu malam di puncak musim kemarau, Petrichor memimpikan Bianglala. Bukannya berenang dengan gembira, Bianglala menggelepar-gelepar di kolam langit yang surut tak berair. Mimpi tersebut begitu nyata sehingga Petrichor terbangun sambil menangis.
Malam berikutnya, Petrichor terus memandangi langit sambil mendoakan sahabatnya. Ketika berada di antara lelap dan sadar, seberkas sinar bintang jatuh di kamar Petrichor dan menjelma seorang bijak berjubah biru keperakan.
"Pangeran kecil, aku mendengar doamu yang tak putus sejak semalam. Apakah yang meresahkan hatimu?" tanya orang bijak.
"Aku mengkhawatirkan nasib sahabatku, wahai Bapak Penjelmaan Bintang," jawab Petrichor, "ia kekeringan di kolam langit. Apa yang harus kulakukan?"
"Ada yang bisa kaulakukan, dan ini bisa menyelamatkan sahabatmu juga semua orang di negerimu," ujar orang bijak, "tetapi ini takkan mudah."
"Apapun yang bisa kulakukan akan aku usahakan, Bapak Penjelmaan Bintang!" seru Petrichor.
Orang Bijak itu mengulurkan sehelai bulu pada Petrichor. "Saat langit di ufuk timur mulai memucat, pasangkanlah bulu ini di rambutmu dan berkokoklah seperti ayam jantan untuk memanggil Sang Matahari. Ia akan bangun memenuhi panggilanmu. Saat berkas cahaya pertama Matahari menyorot, segeralah melompat ke dalamnya, akan kautemui anak-anak tangga menuju ke langit. Kau harus cepat menaikinya, karena Matahari akan semakin tinggi dan tangga akan semakin curam. Sesampainya di langit, isilah kolam langit dengan air untuk menolong sahabatmu."
"Ada satu hal yang harus kau pertimbangkan baik-baik," orang bijak mengingatkan. "Siapapun yang pergi ke langit tidak boleh kembali lagi, kau pun tidak terkecuali. Apakah kau masih mau melakukannya?"
Petrichor yang pemberani dan berhati baik tidak berpikir panjang untuk mengiyakan tantangan itu. Tanpa membuang waktu, diambilnya wadah kaca Bianglala yang kini kosong, lalu ia bergegas mengisinya dengan air yang tersisa di danau.
Mengikuti petunjuk orang bijak, ketika fajar merekah, Petrichor pun menaiki tangga Matahari menuju langit. Terjadi kehebohan di kerajaan ketika para penduduk terbangun dan melihat Petrichor berjalan di udara dalam berkas sinar Matahari.
Petrichor berbalik badan untuk melambai pada raja dan ratu. Hal ini menyebabkan seciprat air dari wadah kaca tumpah ke bumi nun jauh di bawah sana. Air itu membasahi tanah kering berdebu sehingga menguarkan wangi tanah basah, persis seperti aroma yang kau cium saat hujan akan datang.
"Ah, wangi ini pemberian Petrichor! Wangi Petrichor!" demikian seruan para penduduk kerajaan. Sejak saat itu, orang menyebut aroma yang muncul sebelum hujan sebagai Petrichor.
Setelah pendakian panjang, akhirnya Pangeran Petrichor mencapai puncak tangga Matahari... Ia sampai di negeri langit! Tepat di pusatnya tampak kolam langit yang ternyata kering seperti dalam mimpi Petrichor.
"Ooh.. Tak heran hujan tak kunjung turun, kolam ini kosong!" pikir Petrichor. Tanpa membuang waktu, diisinya kolam itu dengan air dari wadah kaca. Ajaib, wadah kaca yang kecil itu tak henti mengeluarkan air hingga kolam meluap menjadi hujan, mengakhiri kemarau panjang di kerajaan.
Dari balik lumpur muncullah Bianglala, berenang gembira di air jernih yang kini melimpah. Ia menari-nari menyapa Petrichor, dan mereka kembali menghabiskan waktu seperti dulu: Petrichor bercerita pada Bianglala, dan Bianglala menanggapi dengan berenang melenggok-lenggok, tubuhnya berwarna-warni memantulkan cahaya.
Karena terharu menyaksikan persahabatan mereka, Penguasa Langit menghadiahi Pangeran Petrichor istana yang indah di tepi kolam langit. Setiap kali Petrichor mengisi kolam dengan air jernih, Bianglala akan muncul dan menari-nari. Di bumi, kau akan melihatnya sebagai hujan yang diikuti kemunculan bianglala atau pelangi.
P.S. "Di antara lelap dan sadar" adalah frase dari lagu Di Ujung Malam (Payung Teduh).
P.S. P.S. Kenapa wadah kaca itu bisa mengeluarkan banyak air? Banyak penjelasan logis yang bisa kubuat, tetapi tidak perlu, bukan? Biarkan keajaiban tetap menjadi keajaiban, bagaimana kalau begitu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar