Alkisah ada seorang kapten kecil di kapal kecil, berlayar di tengah lautan luas. Matanya menatap jauh ke cakrawala, mencari pulau harta. Seekor lumba-lumba datang dan berenang di samping kapalnya.
"Kamu sedang apa? Main yuk!" sapa lumba-lumba.
"Aku sedang mencari harta karun. Emas, mirah delima, mutiara dalam peti, terkubur enam kaki di bawah pasir," kapten kecil melirik sebentar ke lumba-lumba, lalu kembali memusatkan pandangan ke cakrawala.
"Kenapa kamu ingin mencarinya?" tanya lumba-lumba sambil berenang memutari kapal.
"Aku pelaut, pekerjaanku mencari harta karun. Aku ingin menemukan peti terbesar yang pernah dikubur orang, dan kata mereka peti itu ada di Pulau Selatan, di sana," kapten kecil menunjuk searah pandangan matanya.
"Kenapa itu penting?" tanya lumba-lumba.
"Karena kita bisa mendapatkan banyak hal. Aku bisa makan-minum dengan enak, berpesta, membeli kapal yang lebih besar lagi."
"Untuk apa punya kapal besar?" tanya lumba-lumba.
Kapten kecil menghela nafas kesal. "Hmmh, kamu ini banyak tanya. Sudah dulu, aku harus memeriksa peta."
"Oh, baiklah, sampai jumpa!" lumba-lumba berenang pergi.
Esok harinya lumba-lumba datang lagi.
"Kamu sedang apa, main yuk! Lihat, aku bisa begini," lumba-lumba melompat tinggi dan berjungkir balik di sisi kapal.
Kapten kecil, yang matanya terus tertuju ke cakrawala, hanya melirik sebentar.
"Hmm, ya, ya. Hebat." ujarnya datar.
Keesokan harinya, lumba-lumba kembali datang bersama seekor temannya. Mereka berlomba renang di sisi kapal, melompat-lompat, berjumpalitan, mengejar serombongan ikan.
Kapten kecil sebenarnya merasa terhibur dengan ulah para lumba-lumba itu, tetapi dia terlalu sibuk mengemudikan kapal, memeriksa peta, memperbaiki layar, sehingga ia tidak ikut bermain.
Demikianlah tiap hari lumba-lumba datang mengajaknya bermain, dan kapten kecil mengabaikannya.
"Hartaku menunggu. Tak bisa membuang-buang waktu bermain denganmu."
"Kenapa kamu pikir bermain itu membuang waktu?" tanya lumba-lumba, matanya berkilau di bawah matahari.
Kapten kecil memutar mata dan kembali menekuni peta.
Hingga suatu hari.
Nun di perbatasan langit dan laut, muncul sebongkah daratan yang tumbuh membesar.
Kapten kecil melompat gembira dan menambah laju kapalnya. Daratan itu semakin dekat, semakin besar hingga tampak seluruh pulau harta yang diidamkan sang kapten.
Kapal berlabuh, kapten kecil segera melompat turun dengan seikat peralatan menggali.
Di sana, tepat di tengah pulau, kapten menggali, menggali, menggali hingga sekopnya menumbuk benda keras.
Peti harta! Akhirnya!
Kapten kecil melompat-lompat gembira, bersorak-sorai. Akhirnya mimpinya tercapai!
Ia pun berlari ke pantai, mencari lumba-lumba. Sekarang dia bisa bebas bermain sampai kapanpun!
Tetapi di pantai, kapten kecil tertegun. Lumba-lumba tidak ada.
"Ke mana dia? Hei! Ayo main! Sekarang aku sudah tidak sibuk!" panggil kapten kecil.
"Dia sudah pergi," kata sebuah suara dari atas kepalanya.
Kapten kecil menengadah, ternyata seekor burung camar.
"Aku melihat kapalmu berlayar cepat sekali, dan kawanmu tertinggal. Keterlaluan sekali, ia berenang menempuh jarak begitu jauh untuk menemanimu, dan kamu meninggalkan dia," kata camar.
"Tapi.. astaga, aku tidak ingat sama sekali! Aku terlalu bersemangat menemukan hartaku!" seru kapten kecil. "Di mana dia sekarang? Tolong panggil dia agar kembali!"
"Terlambat. Tadi beberapa lumba-lumba menjemputnya, dan mereka berenang ke Laut Barat mengejar kawanan ikan hering. Ia tampak sedih, tetapi teman-temannya berenang di sisinya sambil menghibur. Ia akan lebih bahagia bersama mereka."
"Tapi aku sekarang sudah bisa bermain bersamanya," sesal kapten kecil.
"Begitulah," camar mengangkat bahu (sebentar, apa camar punya bahu? Yah pokoknya semacam itu), "dalam hidup, kadang orang terlalu sibuk mencari peti harta. Mereka menatap lurus ke depan, memacu kapal, meninggalkan teman-teman. Kalau kau cukup beruntung mendapatkan teman lain, semoga kamu ingat bahwa mereka pun bisa pergi jika kau tinggalkan."
Lalu ia terbang, meninggalkan kapten kecil termangu di samping peti hartanya.
waaaah baguussss :') iya, justru si teman itu yang bisa membelok-belokan arah kapal, memberi jalan alternatif untuk menemukan "harta-harta lain" dalam perjalanan sampai ke pulau yang dituju :D
BalasHapus