10 November
Untuk Galia di Maladewa
Galia,
Hari ini aku bertemu Hermes dengan sayap kaki yang terkulai.
Kata Hermes sayapnya patah karena terjatuh beberapa hari lalu. Saat mengambil ancang-ancang akan terbang, Hades menangkap dan membantingnya ke bumi. Aku tidak tahu kenapa Hades begitu, mungkinkah dia iri karena tidak bisa terbang? Atau mungkin Hades hanya menjalankan tugasnya, bagaimanapun juga, semua yang naik di bumi pasti akan turun kembali (walaupun tak selalu berarti yang turun pasti akan naik, karena gravitasi itu).
Nah, kasihan Hermes, sekarang ia berjalan melompat-lompat. Sebenarnya agak lucu juga gerakannya, kikuk seperti bayi yang belajar berjalan. Atau kakek tua yang bertopang tongkat. Aku ingat sebuah ungkapan dari buku, kira-kira bunyinya begini: ketika masih bayi, manusia berjalan tertatih-tatih. Ketika sudah tua, manusia juga berjalan tertatih-tatih. Yang membedakannya, melihat bayi berjalan membuat kita senang, sedangkan melihat orang tua berjalan membuat kita sedih. Manusia memang aneh. Tapi aku bukan manusia. Aku pemimpi, aku kutu yang memanjat jauh lebih tinggi dari teman-temanku yang tertidur di akar bulu kucing. Bukannya aku tak meneriaki mereka agar bangun dan memanjat dan menikmati pemandangan indah dari atas sini. Mungkin mereka takut pada Hades. Tapi lihat, Hermes sudah menjauh sementara aku bercerita padamu! Jadi biarkan aku menunda ocehanku sebentar untuk lari menyambanginya.
Baiklah, jadi, Hermes berjalan melompat-lompat (oh, andai aku bisa menyusun kata-kataku dengan runut! Benakku seperti meloncat, berkelok, berontak dengan liar). Aku berjalan, tepatnya berlari kecil, di sisinya. Hermes menjulang tinggi di atas kepalaku, mungkin karena ia setengah dewa yang bagaimanapun selalu lebih tinggi dari pemimpi. Aku mendengarnya mengeluh: "sakit.." maka kutanya ada apa. Hermes harus segera melapor pada Zeus di puncak gunung Olympus dan ia berusaha sedapat mungkin untuk terbang, tetapi usaha itu hanya membuat sayapnya makin parah.
Lalu aku menawarkan bantuan padanya, kukatakan aku bisa memakai sayap dari bulu-bulu rajawali dan terbang ke Olympus, pesan apa yang ingin kausampaikan. Lalu ia membisikkan padaku rahasia-rahasia dunia, oh Galia, kalau kamu tahu semua rahasia ini, aku yakin kamu akan segera moksa dan tak perlu lagi menjadi filsuf! Tapi aku sudah berjanji pada Hermes untuk tutup mulut. Maafkan aku, Galia.
Jadi setelah mengingat-ingat semua pesan Hermes (aku berharap Short Term Memory Loss-ku tidak kambuh saat ini), aku mengikat bulu-bulu rajawali di kedua lengan dan beranjak terbang. Untuk ini aku harus berterima kasih pada rajawali yang tentu sedang mencak-mencak kehilangan bulu terbang terbaiknya, juga bernafas lega karena Hades tak tampak di manapun.
Galia, terbang rasanya sungguh indah! Hermes tampak semakin kecil, lalu kolam tempat Narcissus berkaca tinggal sebencah genangan air, lalu padang rumput menjadi setitik noda hijau belaka. Oh ya, omong-omong tentang Narcissus: aku pernah dengar dari Internetia, teman dewaku dari masa depan, bahwa suatu saat nanti akan banyak orang berperilaku seperti Narcissus. Mereka terpaku seharian memandangi genangan air beku yang memantulkan gambar-gambar, dan saat melakukan itu, para manusia ini lupa bahwa mereka sedang hidup. Narcissus pasti senang bertemu mereka.
Ah, aku mengoceh lagi..semoga kamu tidak bosan mendengarkanku. Nah, pemandangan di bumi bawah memang indah, tapi tak ada yang lebih memukauku dari Matahari, bola bulat cemerlang di atas sana. Aku sungguh ingin bermandikan cahayanya. Apakah menurutmu aku bisa mampir sebentar ke sana sebelum mencapai Olympus? Sebentar saja, setidaknya agar aku lebih berkilauan, agar penampilanku tidak memalukan saat berjumpa Zeus. Ya, aku sang pemimpi akan bertemu Zeus sang raja Dewa. Tidak setiap hari aku bisa terbang, jadi tak ada salahnya mencoba, kurasa. Bahkan mungkin, sebagai ganti rahasia dunia yang tak boleh kubocorkan itu, aku bisa membawakanmu sebotol inti api. Kata para penyihir di desaku, inti api bisa mengubah sebongkah batu biasa jadi batu akik bertuah atau philosopher stone. Semoga kamu menjadi filsuf yang lebih bijak setelah mendapatkan batu itu. Kirim dupa asap untukku, Galia, aku berangkat!
...
Aduh, Galia, sayapku terbakar. Sampai jumpa, kalau masih bisa.
-Kitara-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar