Jumat, 12 Februari 2010

Angsa... dan Serigala

Dahulu kala hidup seekor serigala
di hutan lebat yang tak terjamah manusia.
Serigala bertaring tajam, berhidung besar,
bertampang seram, bermulut lebar.
Semua hewan takut pada serigala
Dan menghindari bertemu dengannya
Karena khawatir serigala yang buas
Akan mencabik mereka hingga puas.
(Dan itu benar adanya,
Serigala memang pemangsa!)

Karena dijauhi semua hewan hutan
Diam-diam serigala pun kesepian:
Aku ingin punya kawan!
Pikirnya dalam lamunan.
Maka ia mengenakan sehelai kulit domba
Lalu keluar dari rumahnya, sebuah gua.
Serigala berbulu domba pergi ke Padang Sembrani
Dekat sebuah kolam indah lagi asri.
Di sana ia pura-pura merumput,
Dikunyahnya dedaunan sejumput demi sejumput
(karena tentu saja
tumbuhan ia tak suka!)

Saat itu datanglah seekor angsa
Angsa tercantik yang pernah ada.
Leher jenjang menawan, bulu putih bagai awan,
Di antara semua hewan, ia tentu paling rupawan.
Serigala berbulu domba
Terpana memandang sang Angsa.
Pikir serigala, "Nah tiba juga di sini,
Yang kuinginkan sebagai kawan sejati."

Saat itulah angsa cantik melihat domba
Yang sesungguhnya berhati serigala.
Berucap Angsa, "Ah, di sana ada biri-biri!
Bulunya lembut ikal, sungguh manis sekali."
Karena si angsa cantik dan juga ramah,
Dihampirinya 'biri-biri' yang sedang memamah.
Si domba bergigi tajam sangat senang,
Walau gugup ia tetap bergaya tenang.
Angsa dan domba pun berkenalan
Duduk berbincang sampai matahari terbenam.

Lalu kata Angsa, "Aduh aduh payah sekali,
Aku kemalaman, bagaimana ini?
Jika terbang malam hari,
Bisa celaka aku nanti."
Domba bermulut lebar berkata, "Tak perlu cemas,
Akan kubantu karena teman adalah emas.
Mari berjalan pulang beriringan,
Sambil bercanda, takkan terasa pelan."

Merekapun berjalan pulang
Lewat jalan berliku berbatas jurang.
Serigala-domba sangat bersemangat,
Oh, beginilah rasanya punya sahabat!
Ternyata sungguh menyenangkan,
Jalan menanjak pun terasa ringan.

Saat malam semakin larut,
Terdengar suara keruyuk perut.
Dari manakah gerangan suara itu?
Ternyata serigala yang sedang menyaru!
Sudah pasti perutnya berbunyi,
Sedari pagi ia tak makan sama sekali,
Hanya pura-pura mengunyah
Rumput hijau yang renyah.

Sekarang serigala tak begitu bahagia.
(karena ia lapar, tentu saja!)
Ia pun bertanya pada Angsa,
"Apakah di rumahmu akan ada
sup tulang atau iga bakar?
Aku pun tak menolak daging segar!"
"Untuk apa?" tanya Angsa heran.
"Yang kumakan hanya tumbuhan."
Serigala teringat ia sedang menyamar.
Katanya, "Ha, benar juga, aku baru sadar.
Maksudku ingin menanyakan
Apakah di rumahmu ada perapian
Karena aku agak kedinginan."

Mereka pun kembali berjalan.
Beberapa saat kemudian
Keruyuk itu kembali terdengar,
Kali ini suaranya makin gencar.
Serigala, yang makin tak bahagia, kembali bertanya,
"Apakah di rumahmu nanti
Akan ada bistik lidah sapi?"
"Untuk apa?" Angsa yang heran bertanya.
"semua jenis daging, aku tak suka."
"Ah, bukan" seru serigala.
"Maksudku hanya bertanya
Apa bantal-selimut kau punya
Aku ingin segera memejamkan mata."

Tak perlu waktu lama
Hingga terdengar keruyuk ketiga.
Kali ini suaranya membahana
Dan serigala sangat tak bahagia.
Ia pun menggeram pelan,
"Apakah di rumahmu yang nyaman,
Takkan ada daging untuk kumakan?"
"Tentu tidak," Angsa agak ketakutan.
"Mengapa kau terus menanyakan?"
"Karena jika daging kau tak punya,
Kaulah yang menggantikannya!" raung serigala.
Dan serigala pun melepas penyamarannya
Lalu lahap menyantap sang Angsa.
Semua habis dalam sekejap
Lalu serigala tertidur lelap.

Keesokan paginya serigala terjaga
Ia merasa kenyang dan bahagia.
Lalu ia teringat pada Angsa cantik
Sahabatnya yang bodoh tapi menarik
Dan serigala menangis penuh penyesalan:
Kini ia kehilangan satu-satunya kawan.
Ia pun berucap penuh tekad,
"MUlai saat ini aku bertobat
Takkan lagi aku jadi jahat.
Tentang ini niatku telah bulat:
Tak makan daging aku kan dapat!"

Setelah selesai mengucap sumpah
serigala berbalik arah.
Dengan gontai ia melangkah
Pulang ke gua tempatnya singgah.

Dan itulah akhir kisah kita
Tentang angsa dan serigala.
Dapatkah serigala menjaga sumpahnya?
Hm, aku tak punya jawabannya.

(K)




Kepada Yth.
Penerbit Buku Dongeng
Elek Media
di Tempat


Dengan hormat,

Dengan ini saya mengirimkan sebuah fabel untuk Anda terbitkan.
Saya mengerti buku-buku Anda selalu mencantumkan moral dalam setiap dongeng.
Nah, moral cerita ini bisa bermacam-macam, misalnya:
- Jangan langsung mempercayai orang yang baru dikenal
- Jadikan pengalaman buruk sebagai pelajaran
- Sahabat sejati tidak makan teman sendiri, apalagi secara harfiah
- Tidak semua yang berbulu putih keriting adalah biri-biri
- Jika akan menyamar seharian, jangan lupa membawa bekal
- Para serigala suka memakai kostum (lihat: tudung merah, tujuh anak kambing)
- dan lain sebagainya.

Tapi saya menyarankan Anda menggunakan moral cerita yang saya ajukan, yaitu:

"Jika ingin berteman dengan ANGSA, pastikan dulu bahwa Anda seekor BIRI-BIRI, bukan SERIGALA."

Demikian pengantar dari saya, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.


Hormat saya,


Kitara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar