Dan di sanalah mereka, berdiri berhadapan.
Senyum si perempuan tersungging manis, tenang seperti permukaan laut yang menyembunyikan perjuangan jutaan makhluk untuk bertahan hidup.
Tatap si laki-laki tampak teduh walau entah kecamuk apa di dalam dada dan kepalanya.
"Apakah dia orang yang selalu kucari selama ini?"
"Andai aku mempercayaimu, akankah kamu menyakitiku?"
"Bagaimana kalau dia tidak sungguh-sungguh?"
"Apakah ini sungguhan, atau dia hanya mau memanfaatkanku?"
"Sampai kapan kami akan bisa bersama?"
"Aku takut kehilangan dia."
"Aku takut dikhianati lagi."
"Apakah ini cinta sejati, atau hanya ilusi?"
"Akankah aku bahagia bersamanya?"
"Apakah aku cukup baik untuknya?"
"Apakah dia cukup baik untukku?"
Dan di sanalah mereka, berdiri berhadapan.
Sepasang pemberani (atau orang gila) yang memutuskan untuk bersama di tengah badai ketidakpastian yang mengamuk di sekeliling mereka.
"Kita tidak pernah bisa tahu masa depan. Tetapi selama masih punya waktu bersama, aku akan memperjuangkanmu."
Dan di sanalah mereka, berdiri berhadapan.
Si perempuan tersenyum manis, si laki-laki menatap teduh, keduanya merayu Sang Waktu agar berpihak pada mereka.
Semoga, ya, semoga.
Senyum si perempuan tersungging manis, tenang seperti permukaan laut yang menyembunyikan perjuangan jutaan makhluk untuk bertahan hidup.
Tatap si laki-laki tampak teduh walau entah kecamuk apa di dalam dada dan kepalanya.
"Apakah dia orang yang selalu kucari selama ini?"
"Andai aku mempercayaimu, akankah kamu menyakitiku?"
"Bagaimana kalau dia tidak sungguh-sungguh?"
"Apakah ini sungguhan, atau dia hanya mau memanfaatkanku?"
"Sampai kapan kami akan bisa bersama?"
"Aku takut kehilangan dia."
"Aku takut dikhianati lagi."
"Apakah ini cinta sejati, atau hanya ilusi?"
"Akankah aku bahagia bersamanya?"
"Apakah aku cukup baik untuknya?"
"Apakah dia cukup baik untukku?"
Dan di sanalah mereka, berdiri berhadapan.
Sepasang pemberani (atau orang gila) yang memutuskan untuk bersama di tengah badai ketidakpastian yang mengamuk di sekeliling mereka.
"Kita tidak pernah bisa tahu masa depan. Tetapi selama masih punya waktu bersama, aku akan memperjuangkanmu."
Dan di sanalah mereka, berdiri berhadapan.
Si perempuan tersenyum manis, si laki-laki menatap teduh, keduanya merayu Sang Waktu agar berpihak pada mereka.
Semoga, ya, semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar