"Takut."
Itulah yang saya rasakan waktu memandang Batu Jamur menjulang tinggi di atas lubuk Green Canyon. Ini adalah tempat kamu bisa mengalami sensasi adrenalin, melompat dari ketinggian enam meter untuk tenggelam dalam air hijau yang dingin. Saya, yang pernah merasakan adrenalin, tahu rasanya. Ketegangan luar biasa yang membuat tidak-bisa-tidak-harus-berteriak-atau-menjerit, tetapi yang lebih tak terlupakan adalah momen sesudahnya. Peningkatan kesadaran, kejernihan pikiran, rasa seperti "menang," hidup menjadi lebih hidup setidaknya untuk beberapa saat: energi berada pada titik maksimal, mood melambung, saya tertawa dan merasa berani.
Lalu, saya hafal rasa takut luar biasa yang mendahului serangan adrenalin. Lutut melemas, jantung berdebar keras, tangan berkeringat, perut seperti diaduk-aduk. Hmmm...tidak enak, sangat tidak enak. Dalam situasi seperti itu, naluri paling dasar pasti akan berteriak: "Lari. Sembunyi. Jauhi sumber rasa sakit itu."
Lalu dilema umum yang saya yakin sangat dikenal oleh para pelaku aktivitas ekstrim: "maju, atau mundur?" "loncat, tidak loncat?" "hadapi, atau lari?"
Karena dalam setiap aktivitas yang beresiko, selalu ada saat-saat seperti saya di atas batu jamur itu: ketika saya sudah memanjat hingga ke puncak, lalu saya berdiri di tepian batu itu, memandang ke bawah. Di atas sini ada rasa aman dari daratan yang saya pijak, tetapi di saat yang sama, ada kebuntuan. Saya tidak bisa maju lebih jauh lagi dengan rasa aman yang sama. Lalu di bawah sana, air hijau cantik yang berjanji akan menerima tubuh saya jika saya jatuh, tetapi entah ada apa di balik permukaan air itu. Dan terakhir, ada jarak yang harus diseberangi, ada satu langkah yang harus dilewati - satu langkah yang menjadi pembeda antara berada di atas batu atau di dalam air. Satu langkah, yang menjadi keputusan saya untuk saya ambil atau tidak.
"Takut."
Di atas batu itu, saya begitu takut sampai menangis. Ketakutan yang tidak beralasan sebenarnya, karena keamanan saya sudah diusahakan dengan optimal oleh instruktur lokal. Saya mengenakan pelampung, di bawah sana beberapa orang lifeguard siap menolong, dan sebelum saya sudah ada belasan orang meloncat dengan aman. Resiko sudah diperkecil sebisa mungkin, dan saya tahu itu. Setiap orang yang sudah meloncat merasa sangat senang, bahkan ketagihan mencoba lagi, dan saya tahu itu. Saya ingin mengalami sendiri rasanya, dan saya tahu itu. Jadi tidak ada alasan untuk tidak meloncat.
Maka tinggallah saya, berhadapan dengan Ketakutan: sebuah insting purba untuk mempertahankan hidup, untuk menghindarkan diri dari rasa sakit, untuk berpegang kuat-kuat pada segala hal yang aman dan nyaman selama mungkin.
Ketakutan berkata: "Apa perlunya melakukan ini? Rasanya tidak enak. Di sini saja kan sudah cukup enak."
Saya berkata: "Tapi kalau melakukan ini, mungkin saya akan merasakan sesuatu yang lebih enak lagi."
Ketakutan berkata: "Kalau kamu meloncat, belum pasti kamu akan mendapat yang enak. Sedangkan kamu pasti akan merasakan sesuatu yang tidak enak."
Saya berkata: "Betul juga. Yang enak belum tentu, tidak enak sudah pasti."
"Makanya, mundur saja. Masuk akal, kan?"
Saya mundur selangkah.
Tiba-tiba Hati berkata: "Bukankah lebih baik kamu meloncat?"
"Kenapa?" tanya saya.
"Bagaimana kalau meloncat ternyata seru? Bagaimana kalau ternyata semua berjalan lancar? Bagaimana kalau kamu tidak meloncat, dan sampai pulang penasaran bagaimana rasanya meloncat?"
"Bagaimana kalau meloncat ternyata tidak enak? Bagaimana kalau pelampungnya lepas? Dia kan tidak bisa berenang. Bagaimana kalau jatuhnya melenceng dan dia menghantam batu?" protes Ketakutan dengan galak.
"Ya, Ketakutan benar," kata saya.
Kata Hati, "Kalau kamu berpikir begitu, kamu malah HARUS meloncat."
"Kenapa?" tanya saya, bingung.
"Karena kalau kamu tidak loncat, dia yang menang," kata Hati, menunjuk pada Ketakutan, "dia akan menguasaimu, dan tepian ini akan selamanya menjadi batasmu. Hal ini tidak hanya berlaku di batu jamur, tetapi dalam segala hal di kehidupanmu. Hidupmu akan terbatas, karena kamu selalu menghindari tepian. Apa kamu ingin hidup seperti itu?"
"Tidak," saya mengakui.
"Di bawah sana mungkin tidak ada apa-apa, tetapi kalau kamu mengambil langkah ini dan meloncat, kamu sudah menang. Karena hidupmu masih menjadi milikmu, bukan milik Ketakutan."
"Dengar baik-baik," ujar Hati, "Tidak ada sesuatu yang benar-benar buruk bisa terjadi padamu, kecuali kalau kamu menyerah pada Ketakutan."
Setelah itu tak ada keraguan. Saya berlari ke ujung, menutup mata, merasakan tanah menghilang di bawah kaki saya.
Saya meloncat.
Gambar diambil dari sini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar