Sabtu, 03 Desember 2011

Kisah Pengembara dan Sekuntum Bunga

Dear Galia,
Aku sedang menulis cerita. Maukah kamu membaca dan mengomentarinya? Kamu selalu punya sudut pandang menarik, dan aku membutuhkan itu.
Terima kasih, ya.

Salam,
Kitara




Ini adalah kisah tentang dua makhluk yang saling menjinakkan.

Dalam cerita ini, ada sebuah buku yang tak selesai.

Dalam cerita ini, ada serangkaian malam penuh petualangan.

Ada nyanyian dan kue-kue enak.

Ada tawa riang.

Tapi juga ada tangis.

Karena ada dua buah jantung, yang satu berdenyut jauh di pusat kelopak, sedangkan yang lain tersimpan dalam kotak hitam di dasar samudra.

...

Pada awalnya adalah mimpi: bocah pengembara memimpikan sekuntum bunga, dan kuncup bunga memimpikan seseorang yang membawanya melihat dunia. Mereka bertemu dalam pejaman mata, di dunia tempat segalanya mungkin.

Lalu mereka terbangun, berjumpa dan saling mengenali.

Dari sinilah cerita dimulai..

Bocah pengembara berkata, mari melihat dunia.

Jawab kuncup bunga, aku berakar di sini, bagaimana aku bisa pergi?

Kalau begitu, lihat kemari, aku membawakanmu secuil dunia, kata bocah pengembara.

Ia mengulurkan kedua tangan yang menangkup, dan membukanya di hadapan bunga. Dalam genggaman sang bocah tampak seekor rubah merah muda, seukuran buah anggur.

Cantik sekali! seru kuncup bunga senang. Aku belum pernah melihat makhluk semanis ini!

Ini baru permulaan, jawab bocah pengembara bangga. Masih ada banyak yang seperti ini. Besok akan kubawakan sesuatu lagi untukmu.

Keesokannya bocah pengembara datang menghampiri kuncup bunga.

Hari ini aku akan bercerita, katanya.

Pengembara bercerita tentang banjir musim hujan dan ikan yang berlompatan di jalan, juga tentang cara terbaik untuk terbang. Ia bercerita tentang awan dan lautan dan tempat kau bisa mencari kayu terbaik untuk membuat busur panah.

Kuncup bunga mendengarkan dengan mata terbelalak.

Tak pernah di duniaku ada hal-hal seperti itu, gumamnya takjub. Selama ini begitu sedikit yang kutahu..

Dan karena benaknya menggembung oleh khayalan, kuncup bunga mulai mekar - sehelai mahkota mengikal terbuka.

Nah, aku capek, hari ini cukup dulu, ujar bocah pengembara. Dunia ini luar biasa, lho. Masih ada banyak lagi yang ingin kutunjukkan.

Keesokan harinya bocah pengembara datang membawa sebentuk cincin dari sulur-suluran hijau muda.

Ini cincin peri, katanya. Lihat, kalau kausentuhkan pada benda yang patah, benda itu akan utuh kembali.

Hebat! seru kuncup bunga kagum. Hei bocah, begitu banyak ceritamu, begitu mempesona dunia ini!

Dan aku senang sekali bertemu denganmu, balas bocah pengembara. Karena kau tahu? Memiliki begitu banyak cerita tanpa seorang pendengar...rasanya seperti balon yang terlalu penuh berisi udara. Kau bisa meletus!

Sungguhkah? Tanya kuncup bunga merona. Tawa lebarnya merekah, seiring helai-helai mahkota kuncup bunga yang merekah makin lebar.

Demikianlah waktu berlalu dengan warna-warni. Bocah datang tiap pagi membawa ini dan itu, bunga mendengarkan dengan terpesona. Di setiap akhir hari, sang bocah dan bunga berpisah dengan ucapan: sampai jumpa esok.

Hingga suatu pagi kuncup bunga mekar penuh, dan tampaklah jantungnya yang selama ini tersembunyi di pusat kelopak.

Ketika bocah pengembara datang, ia berseru, hei, apa itu yang berdenyut di tengah-tengah kelopakmu?

Ini jantungku, jawab bunga. Seharusnya ia kusembunyikan dengan rapi dalam lipatan kelopakku, tetapi bersamamu membuatku lupa. Aku mekar tanpa sadar.

Ini hal baru untukku, gumam bocah pengembara mengangguk-angguk. Ah, kupikir aku sudah melihat semuanya di dunia ini. Ternyata belum! Apa lagi yang terlewatkan olehku?

Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal bunga, bocah pengembara melamun.

Hei, apa yang kau punya hari ini? tanya bunga, mengguncang lengan sang bocah.

Ha, apa?

Apa yang kau punya hari ini?

Oh ya, benar...hari ini aku punya cerita, jawab bocah pengembara. Ia mulai bercerita tentang negeri yang dihuni para raksasa, tetapi pandangan matanya menerawang jauh.

Apakah kau sakit? tanya bunga. Hari ini kau tampak kurang bersemangat.

Ah? Tidak, tak apa-apa. Mungkin hanya sedikit lelah, mungkin sebaiknya aku beristirahat sekarang, jawab bocah pengembara.

Tentu saja. Sampai jumpa esok! Bunga melambai.

Esok harinya bocah pengembara datang. Ia mengenakan jubah pengembara.

Tadi malam aku mimpi cincin periku patah. Kata orang-orang di negeri selatan, mimpi itu berarti perpisahan. Sepertinya ini waktuku pergi, ujar bocah pengembara pada bunga.

Ketika melihat jantungmu aku tersadar. Aku ini pengembara yang selalu ingin tahu tentang dunia. Kalau aku menghabiskan hidup berdiam di satu tempat, aku bukanlah aku. Dan ceritaku akan habis dan kamu akan bosan dengan kisah yang kuulang-ulang, tambah sang bocah.

Kamu benar, kata bunga. Tapi kalau kau pergi, aku akan kesepian...

Ikutlah denganku. Mari melihat dunia, ucap bocah pengembara.

Tapi aku adalah bunga yang tumbuh mengakar, jawab bunga. Jika aku tercerabut, aku bukanlah aku.

Kamu benar, ucap bocah pengembara. Aku tak mau melihatmu bersedih...

Bocah dan bunga termenung.

Ada yang ingin kukatakan, kata bunga.

Aku mendengarkan, jawab bocah pengembara.

Karena menghabiskan waktu bersamamu, kini jantungku tak lagi terlindung. Ia akan terluka cepat atau lambat. Ini tak terhindarkan dan ini bukan salahmu, tetapi aku ingin kamu tahu.

Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? tanya bocah pengembara.

Bukakan jantungmu untukku, jawab bunga. Setidaknya saat mengingatmu, aku akan tahu bahwa aku tak sendirian.

Bocah pengembara lama berdiam diri.

Aku tak bisa, akhirnya ia menjawab. Sejak pertama kali menjumpaimu, jantungku tak pernah kubawa. Ia tersimpan dalam kotak hitam, jauh di dasar samudra..

...

(to be continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar