Senin, 03 Oktober 2011

Bernyanyilah Selama Bisa

Kepada Yth.
Penerbit Buku Sendiri
di tempat


Dengan ini, bukan bersama ini menurut aturan Ejaan Yang Disempurnakan, saya kirimkan sebuah naskah buku anak-anak.
Cerita ini terinspirasi dari nasihat Henry Van Dyke, yaitu: "Use what talent you possess; the woods will be very silent if no birds sang except the best."
Adapun tentang format cerita yang berima, itu hanyalah keisengan belaka untuk mempersulit diri saya. Karena manusia suka merumitkan apa yang sebenarnya sederhana, dan saya ingin menjadi manusia.
Saya membayangkan buku ini dilengkapi dengan ilustrasi cat air yang indah dan berwarna-warni. Sebagai contohnya akan saya gambarkan satu buah ilustrasi, tetapi ijinkan saya terlebih dahulu membeli cat air, mencari keran air bersih yang masih menyala, dan belajar menggambar pada ahlinya.
Terima kasih.


-Kitara-




BERNYANYILAH SELAMA BISA

Dahulu kala, ketika hewan masih bisa berbicara,
Tersebutlah dua keluarga burung di hutan cemara.
Keluarga pertama tinggal di Pohon Utama
Tempat paling indah pemandangannya,
Khusus untuk mereka yang penting lagi kaya.
Keluarga kedua tinggal di Semak Satunya
Sebuah tempat nyaman yang sederhana,
Untuk mereka yang biasa-biasa saja.

Kata Ayah Burung di keluarga pertama:
Anak-anakku tercinta,
Keluarga kita tak pernah nomor dua, dalam semua hal kita juara.
Teruskanlah tradisi keluarga, ya!
Kalau tak jadi pemenang, yang kalian lakukan sia-sia!
Ujar sang Ayah, ambisi bersinar di matanya.
Lalu Ayah Burung menunjukkan barisan piala
Hasil kemenangannya dari masa remaja.

Kata Ayah Burung di keluarga kedua:
Anak-anakku tercinta,
Terhadap sesuatu yang kau suka, lakukanlah dengan gembira.
Lalu tentukan sendiri kau ingin jadi apa!
Ujar sang Ayah, kebijaksanaan memancar di wajahnya.
Lalu Ayah Burung mengajak anak-anaknya
Bermain dan menjelajah hutan bersama.

Selang beberapa waktu lamanya,
Saat anak-anak burung telah menjadi dewasa,
Seorang anak perempuan bergaun renda
Berpelesir di hutan sambil tertawa-tawa.

Ketika melewati Semak Satunya, riuh kicau burung membuatnya terpana.
Tampak burung-burung kecil berhias bulu aneka warna
Berloncatan di sekitar sarang dengan bentuk tak biasa.
"Hahaha, semak ini seru sekali!" anak perempuan tergelak ceria.
"Apakah semua tempat di hutan sama asyiknya?"

Ia pun terus berjalan hingga tampak olehnya Pohon Utama.
"Wah, di tempat sebagus ini, pasti lebih luar biasa!
Bulu burungnya akan berwarna bianglala,
Kicaunya bagai denting harpa, sarang mereka mahakarya."
Anak perempuan menghampiri Pohon Utama dengan mata bercahaya.

Tetapi siapa sangka?

Pohon Utama sunyi senyap, tak ada sedikitpun suara.
Burung-burung di sana berbulu kelabu berwajah hampa
Dan sarang mereka ternyata tidak istimewa.

Anak perempuan yang bingung pun bertanya,
"Hai, kalian tidak bernyanyi atau membuat sarang atau berhias. Kenapa?"
Jawab anak-anak burung pada dia:
"Aku ingin bernyanyi, tapi suaraku fals di nada ketiga."
"Aku suka berhias, tapi kilau buluku kurang sempurna."
"Aku senang mereka-reka bentuk sarang, tapi sering goyah hasilnya."
"Hmmm...begitu ya."

Anak perempuan kembali ke Semak Satunya,
Lalu ia kembali bertanya:
"Eh, kalian asyik sekali bernyanyi dan membuat sarang dan berhias aneka warna.
Apakah kalian sangat sempurna?"
Jawab anak-anak burung pada dia:
"Suaraku fals di nada ketujuh, tapi aku ingin bernyanyi selamanya."
"Buluku sering rontok, tapi berhias semarak itu paling kusuka."
"Biarpun kadang rubuh, semangatku membuat sarang tiada bandingannya!"
"Ooo...begitu ya."

Anak perempuan bergaun renda pulang ke kota.
Sesampai di rumah, diambilnya pena dan tinta
Lalu ia tuliskan sebuah cerita
Tentang dua keluarga burung di hutan cemara.

1 komentar: