Dear Galia,
Mayday! Aku butuh bantuanmu untuk menjadi saksi dari cerita hidupku yang satu ini, karena cerita harus dituturkan dan didengar, bahkan kalaupun itu hanya coretan asal untuk melemaskan otot kreatif.
Terima kasih!
-Kitara-
PS. Anyway, Maladewa masih di atas air kan? Kamu belum tenggelam, kan?
....
Sama seperti olahraga, kebiasaan berbuat baik dan karakter yang baik membutuhkan semacam otot. Kegiatan kreatif pun membutuhkan otot kreatif yang kuat. Otot-otot ini terbentuk dari latihan teratur dan terus-menerus.
Jadi, setelah sekian lama tidak menulis, inilah saya, sedang membangun kembali otot kreatif yang telah melemah - dan melemahnya otot itu sungguh terasa, kalau Anda ingin tahu.
Mari kita mulai menulis kembali.
Saya sudah berbulan-bulan tidak menghasilkan tulisan apapun. Tidak yang pendek, apalagi yang panjang. Mungkin hidup saya telah terlalu penuh terisi pekerjaan (yang tak semuanya bermakna maupun berarah jelas). Apapun alasan saya berhenti, kembali menulis terasa penting, karena saya sadar bahwa menulis baik untuk saya dan saya membutuhkannya.
Kata seorang bijak yang lucu, kita menulis bukan untuk menyampaikan isi kepala kita pada orang, tapi untuk mendengarkan isi kepala kita sendiri. Saya semacam setuju dengan pernyataan itu. Bagi saya, menulis membantu memperjelas isi kepala saya yang berupa kabut dan cuatan-cuatan pikiran acak, menyusunnya dalam suatu bentuk yang tertata, sehingga saya bisa memandang keseluruhan gambarnya dengan lebih baik.
Menulis membantu saya mendokumentasikan pikiran-pikiran yang mungkin akan berguna suatu saat di masa depan. Roald Dahl, penulis super kreatif dengan cerita-cerita surealisnya, punya satu buku catatan yang dia isi dengan segala macam ide acak yang melintas di kepalanya, kapanpun, di manapun. Salah satu novel anak-anaknya yang terkenal (kalau tak salah 'The Fantastic Mr. Fox') dikembangkan dari salah satu ide acak tersebut. Dalam kasus saya, membaca ulang tulisan dari masa lalu seringkali berguna. Kadang ini membantu saya memaknai ulang masa lalu, karena saya memandangnya dari perspektif yang berbeda. Kadang, saat hidup menjadi terlalu penuh dan membingungkan, membaca tulisan lama dapat kembali mengingatkan dari mana saya berasal dan apa yang benar-benar saya inginkan.
Kemarin saya membaca ulang beberapa tulisan yang ditulis sekitar tiga tahun lalu. Saat membacanya saya baru sadar, ternyata saat ini saya sedang mengalami situasi yang mirip dengan tiga tahun lalu. Perbedaannya adalah, tiga tahun lalu respon saya berbeda dengan saat ini, sehingga hasil yang saya peroleh pun menjadi sangat berbeda. Ternyata cerita hidup yang terdokumentasi dalam tulisan juga dapat digunakan untuk melakukan semacam review terhadap kehidupan. Bahkan pemikiran dan ide yang telah lama berlalu, ketika terdokumentasi dalam tulisan, masih dapat bermanfaat dan memberi pembelajaran.
Ada pepatah (yang entah dari siapa, tetapi siapapun dia tidak mengurangi nilai pesannya), "setiap orang membutuhkan seseorang untuk menjadi saksi dari kisah hidupnya." Saya rasa kata-katanya mengandung kebenaran - setiap orang punya cerita. Mungkin tak berarti untuk dunia, tetapi cerita itu adalah segalanya bagi orang tersebut. Dan menyampaikan cerita menjadi penting, karena bukankah itu hakikat dari cerita? Ia harus dituturkan dan seseorang harus mendengarkannya, atau dia bukan cerita. Ketika tak ada seseorang pun yang dirasa akan dapat mendengarkan atau memahami, maka saya mengaku kalah - saya menulis, sehingga setidaknya akan ada seseorang yang mendengarkan isi kepala saya: saya sendiri.
Nah, menuliskan semua hal di atas ini ternyata juga membantu saya mendengar. Dan yang saya dengar dari tulisan ini adalah: bahwa memang, menulis ternyata sungguh penting. Tadinya saya hanya merasa itu penting, tetapi sekarang saya tahu kenapa.
sudah lama tidak menulis, begitu kembali ke kertas langsung bercerita panjang.
BalasHapusHebatnya... Kitara selalu rapi dan menarik kalau bercerita.
Lancar seperti air.
Saya suka sekali.
Tulisan ini berisi kebenaran yang saya juga setuju :)
Ah, lama tak mendengar kabar dari kembangbakung! Senang bersapa lagi :)
BalasHapus