Teman yang baik,
Kamu kukenal sebagai orang yang selalu berada di belakang kamera, bukan di depannya. Dalam foto-foto kami bersama, wajahmu tak pernah ada kecuali di satu-dua gambar. Ketika semua orang saling mengomentari dan menertawakan wajah masing-masing yang tampak konyol, kamu hanya tersenyum, terlupakan.
Dalam momen-momen kita bersama, kami dapat mengingat jelas seperti apa penampilan kami dan apa yang kami rasakan, karena kamu ada untuk mengabadikan kami. Tapi bertahun setelahnya, kami tak dapat mengingat pakaian yang kamu pakai, dan sebagian dari kami bahkan lupa wajahmu, seseorang yang selalu di belakang kamera.
Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku mengingatmu. Ketika memandangi karya fotomu, aku membayangkan dirimu sedang memandang gambaran yang sama dari lensa kamera, dan apa yang kamu rasakan saat itu.
Aku mengingat dirimu sebagai orang yang lembut, karena foto-fotomu selalu diselimuti kelembutan, seolah kamu memandang dunia dengan perasaan hangat dan mengambil gambarnya sambil tersenyum.
Kamu mengambil gambar kami saat tertawa, kamu menangkap binar mata kami. Dari situ aku tahu betapa kamu menikmati berada di sana, tak tampak - karena bagi kami, senyum dan tawa akan memudar hingga tinggal air mata serta getir, tetapi kamu, kamu memiliki senyum kami selamanya.
Aku ingin kamu tahu, aku menghargai caramu yang berbeda untuk meninggalkan jejak - jika kami berpose di depan kamera untuk mengukuhkan hidup kami, kamu melakukannya dengan menunjukkan apa yang kaulihat pada kami.
Kamu sudah mengerjakan bagianmu untuk kami: kamu membuat bukti keberadaan kami di dunia. Karena itu aku akan mengerjakan bagianku untukmu, yaitu mengingatmu. Bahkan jika bukan mengingat wajahmu, aku akan mengingat orang seperti apa dirimu dengan memandang karya-karyamu, dan aku akan selamanya berterima kasih.
-Kitara-
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusaku suka.. aku sukaaa :p
BalasHapussaya suka ini... surat yg manis untuk seorang fotografer... :)
BalasHapus