Senin, 01 Maret 2010

16 Desember 1998: untuk Coklat

Di dalam hidup, ada saat-saat di mana kamu perlu membayar sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Dan dalam hidup, transaksi tidak selalu terjadi secara langsung; kadangkala kamu membayar sesuatu di muka dengan dasar percaya, percaya bahwa sesuatu yang kau bayar di muka itu akan datang padamu - dengan kata lain kita mengambil resiko.

Bahkan, kebanyakan kali dalam hidup seseorang yang bertanggung jawab, itulah yang akan terjadi. Mereka mengulurkan pembayaran mereka terlebih dahulu, memberi dahulu sebelum menerima, alih-alih memaksa memperoleh sesuatu dulu sebelum mau membayar harganya. Jarang kamu mendapatkan hal yang kedua dengan cara jujur, kecuali jika itu nasibmu dan memang sedang kebetulan begitu.

Mengambil resiko, berarti bersedia melepaskan sesuatu yang kamu miliki terlebih dahulu sebelum mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan. Tidak mudah. Seperti, misalnya, melangkah keluar dari zona nyaman. Jauh sebelum kamu mendapatkan keasyikan petualangan dan perkembangan diri yang biasanya selalu menyertai seseorang di luar zona nyaman, kamu pertama-tama harus merasakan dulu ketidaknyamanannya, berusaha keras beradaptasi dengan hal-hal baru di sekitarmu, dan belajar meneguhkan hati di tengah dunia asing yang rawan. Jika kamu berkata "saya sudah keluar dari zona nyaman saya" tapi belum juga ada hadiah yang datang padamu, aku harus bertanya, "apakah kamu sudah benar-benar merasakan betapa tak enaknya keluar dari zona nyaman?" karena kalau kamu tidak bersedia merasakannya, kalau kamu menyangkal keseluruhan konsekuensi yang seharusnya kamu rasakan, maka yang bagus-bagus juga takkan datang padamu.

Ya, hal-hal yang bagus hanya datang pada mereka yang bersedia membayar harganya. Dan membayar harga sesuatu berarti berani kehilangan sesuatu.

Kalau aku mengajakmu bertemu (dan asal tahu, itu membutuhkan seluruh keberanianku), aku mempertaruhkan rasa aman yang selalu kumiliki saat hidup sendirian.

Kalau aku berkata aku kangen padamu (dan kurasa itu membutuhkan seluruh keberanianku ditambah mood cerah dan rasa percaya diri yang memuncak), aku mempertaruhkan ilusi indah yang selalu kumiliki tentangmu, ilusi bahwa kamu juga kangen padaku di suatu tempat dan menunggu saat-saat bertemu denganku.

Asal kau tahu, itu pertaruhan yang sulit. Sekali aku kehilangan rasa aman dan ilusi itu, itu adalah selamanya. Tak mungkin aku bisa kembali berilusi kamu kangen padaku jika kamu berkata langsung di depan wajahku, "Maaf, aku tidak merasakan hal yang serupa." Dan sekali aku mengajakmu pergi, itu adalah pernyataan bahwa "aku ingin bersama seseorang," artinya tidak ada lagi "aku cukup bahagia walau tidak bersama siapapun, nih buktinya aku tidak ingin bertemu siapa-siapa."

Mengerti kan? Sekali aku melakukan itu, aku langsung membayar. Tunai, tanpa kartu kredit. Dan saat melakukan itu, aku mempercayakan diriku pada nasib. Aku melepaskan rasa aman dan ilusiku karena aku percaya, aku akan baik-baik saja. Dan apakah nasib akan memberikan apa yang kubayar? Apakah nasib akan menyuruhmu berkata, "Iyaaa, aku juga kangen padamuu..ayo kita bertemu"

Atau nasib memutuskan untuk menahan bayaranku, membungakannya lebih dulu seperti deposito, untuk suatu saat nanti memberi sesuatu yang lebih besar dari yang kuinginkan sekarang?

Atau nasib bermain curang, mengambil bayaranku dan kabur jauh-jauh?

Itulah mengapa namanya mengambil resiko. Selalu ada resiko dalam membayar pada nasib; resiko untuk kehilangan percuma apa yang kamu bayar. Tapi ini bukan sesuatu yang tidak adil, karena sisi sebalik mata uang 'resiko kehilangan' adalah mata uang 'peluang untuk mendapatkan'. Dan jika kamu beruntung, apa yang kamu dapat memang sangat layak dipertaruhkan (kalau tidak, kamu tentu tidak bersedia membayar di awal, kan?)

Artinya, kalau aku bertaruh dengan mengajakmu bertemu, atau berkata aku kangen padamu, lalu kamu menjawab, "Samaa, aku juga kangen padamu.." dan antusias membuat janji temu denganku, lalu kita bertemu dan pertemuan itu menyenangkan, lalu di akhir pertemuan kamu berkata, "Kapan aku bisa menemuimu lagi?" Sehingga ini semua berlanjut menjadi sebuah cerita,

Tentu yang kudapat jauh lebih banyak dari yang kubayar. Aku akan sangat bahagia, hidup dengan keberadaan dirimu yang nyata. Bukan sekadar hidup sendirian dengan ilusi-ilusiku.

Dan kalau aku tidak beruntung, di sinilah aku, tetap sendirian tapi tidak lagi merasa aman. Tetap sendirian, dan kali ini tanpa ilusi-ilusi indah yang membantuku bertahan. Dan walaupun aku tahu itu tidak cukup kuat untuk membuatku mampus atau menjadi pecandu narkoba yang putus asa, tetap saja, itu adalah kemungkinan yang terdengar sumbang dan menyedihkan.

Karena itulah, aku hanya mau bertaruh untuk sesuatu yang sungguh-sungguh penting bagiku.

Nah, kamu tahu, aku bertaruh padamu.





Cenik

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. seluruh keberanian dalam diri. pertaruhan. resiko. dan rasa aman.

    aduhh.. suka sekali baca tulisan ini. *agak-agak mirip dengan curcolku juga,hehe*

    kangen dehh ... :)

    BalasHapus