Minggu, 12 Desember 2010

After Happily Ever After

Berapa banyak cerita dongeng yang berawal dari "pada jaman dahulu..." dan berakhir dengan "...hidup bahagia selama-lamanya"?

Sepertinya kita banyak mendengar kata-kata itu, bukan? Dari dongeng klasik tentang putri dan pangeran, sampai dongeng-dongeng modern dari drama romantis Hollywood. Para tokoh cantik itu menjalani kehidupan apa adanya, sampai suatu saat mereka bertemu pangeran tampan berkuda putih (atau bermobil putih, dalam kasus drama Hollywood), lalu mereka jatuh cinta dengan satu dan lain cara, mengatasi berbagai rintangan, lalu "hidup bahagia selama-lamanya."

Pernahkah kamu sungguh-sungguh bertanya, apa yang terjadi setelah dongeng selesai?

Kehidupan seperti apa yang disebut bahagia selama-lamanya?

Karena penasaran, aku mengirim seorang peri penyelidik (bukan Tinkerbell, dia terlalu cerewet) untuk mencari tahu kabar putri-putri beruntung itu, mereka yang dipilih oleh sang pangeran untuk diberi cincin kawinnya. Berikut ini adalah laporan dari peri kecilku.



1. Cinderella

Waktu periku mengintip ke istana Cinderella, si cantik sedang duduk termenung menghadap jendela besar di kamarnya yang mewah. Wajahnya murung. Dari gosip-gosip para pelayan, Yang Mulia Pangeran sedang pergi berperang melawan invasi kerajaan tetangga. Beliau berjaga di perbatasan dan sudah bertahun-tahun tidak pulang.

Cinderella menghembus nafas keras-keras, bosan. Saat masih bersama ibu tirinya, dia mengerjakan semua pekerjaan rumah dan tak ada waktu untuk bosan. Hari-harinya produktif dan dinamis - membersihkan rumah, menjahit, memerah sapi, mengairi ladang, mencuci di sungai, memetik jamur di hutan bersama Si Tudung Merah. Lelah, tapi seru.

Sekarang ia tidak boleh mengerjakan apapun karena semua sudah dikerjakan oleh pelayan dan seorang putri "tidak pantas" mengerjakan pekerjaan kasar. Putri-putri seharusnya berdandan, duduk manis dan beramah-tamah pada tamu-tamu kerajaan. Itu saja.

Tapi Cinderella bukan putri-putri. Dia, pada awalnya, tidak berbeda dengan pelayan yang mengerjakan pekerjaan kasar untuknya, hanya nasib yang membawanya ke tempat yang berbeda. Mungkin jauh di dalam hati dia masih gadis desa sederhana yang suka bertelanjang kaki, merasakan sejuk aliran air sungai di tangan yang mencuci pakaian dan hangat matahari di tengkuk saat meladang.

Tepat sebelum periku meninggalkan istana, Cinderella mengeluh pada dirinya sendiri, "When a dream come true, who knows that it is a nightmare..?"

Beberapa minggu setelahnya periku mendengar gosip tentang kehebohan di istana. Putri cantik bersepatu kaca telah menghilang. Pangeran meninggalkan medan pertempuran demi mencari sang kekasih, tapi apa boleh buat, kali ini Cinderella membawa kedua belah sepatunya - dia tidak ingin ditemukan.

Mungkin saat ini dia sedang hidup tenang di suatu desa terpencil, beternak ayam dan menanam tomat. Semoga kali ini dia sungguh-sungguh bahagia.


2. Putih Salju

Tidak banyak yang dapat dikatakan tentang Putih Salju, karena saat ini ia lebih cocok disebut Merah Delima. Pangeran yang dinikahinya sangat gemar berkuda (ingat, saat pangeran pertama kali menemukan Putih Salju, ia sedang berkuda, padahal tempat Putih Salju terbaring adalah pegunungan berbatu terjal. Sekarang kamu mengerti kan, betapa sukanya pangeran itu naik kuda?) Nah, setiap kali pangeran pergi berkuda, Putih Salju selalu diajaknya serta sehingga kulit sang putri yang tadinya pucat berubah merah kecoklatan, terbakar matahari.

Putih Salju sangat khawatir kecantikannya berkurang karena hal itu, jadi setiap hari ia bertanya pada cermin ajaib: "Cermin, cermin di dinding, siapakah yang paling cantik di kerajaan ini?"

Siapa yang tahu, mungkin suatu saat ia akan sedengki ibu tirinya jika cermin menjawab "Ada yang lebih cantik darimu..."

Saat periku meninggalkannya, cermin masih menjawab "Kaulah yang tercantik, Putih Salju berkulit merah delima." Jadi, setidaknya sampai saat ini masih aman.


3. Jelita

Si cantik ini memang sedikit nyentrik. Waktu kakak-kakaknya minta baju dan perhiasan, dia minta bunga mawar dari kebun monster. Lalu ia jatuh cinta pada beruang besar berbulu seperti si Buruk Rupa, bahkan sebelum makhluk itu berubah menjadi pangeran. Tapi mari kita dengarkan laporan periku tentangnya.

Periku menemukan Jelita di taman mawar pada hari Minggu, sendirian membersihkan kutu-kutu daun dari semak mawar. Ia bernyanyi, bahkan bersiul sedikit. Seperti ayam betina yang berkokok, kata ibu-ibu petani. Jelita menyambut periku dengan ramah, lalu bercerita panjang-lebar tentang hidupnya bahkan tanpa ditanya. Kata periku, ini pekerjaan paling mudah dari semua penyelidikannya.

Jelita berkisah, ciri hewan si Buruk Rupa (yang sudah berubah menjadi Pangeran Tampan) ternyata tidak hilang sepenuhnya saat berubah wujud. Kamu yang memelihara anjing tentu tahu kalau satu tahun anjing sama dengan dua belas tahun manusia, kan? Pangeran Tampan mantan Buruk Rupa juga begitu - tahun-tahunnya berjalan lebih cepat dari manusia normal. Jadi setelah pernikahan yang tak lama, Pangeran Tampan menua lebih cepat dan meninggal dalam damai.

Jelita pulang ke rumah ayahnya, lalu berduka hingga empat puluh hari seperti layaknya tradisi negerinya. Kemudian ia teringat bahwa ia mewarisi istana mewah milik Buruk Rupa. Jelita kembali ke istana tersebut, melap debu dan mengepel lantai, menyiangi taman mawar, mengapur tembok, lalu membuka istana tersebut untuk umum. Anak-anak berdatangan untuk bermain di bawah keteduhan pohonnya, gadis-gadis dan pemuda berdansa di bangsal dansa yang megah, orang-orang tua minum teh di ruang duduk yang nyaman - setiap hari kecuali Minggu, hari untuk merawat mawar.

Menurut periku, Jelita tidak pernah kesepian. Ia punya terlalu banyak teman untuk merasa kesepian.

Yah, kurasa hidupnya cukup bahagia, walaupun bukan dengan cara yang kubayangkan.

5 komentar:

  1. hihi..kreatif sekali.
    eh eh.. Jelita itu siapa?
    trus.. gimana kira2 nasib Pinokio dan Belle?

    BalasHapus
  2. hehehehe terimakasiih Viraa.
    Jelita itu Belle, terjemahan bahasa Indonesianya Beauty & The Beast (Si Jelita dan Si Buruk Rupa).
    Kalo Pinokio, apa ya....nanti ngarang-ngarang dulu ah :)

    BalasHapus
  3. hmmm...

    "When a dream come true, who knows that it is a nightmare..?"

    waaa... reportase yang sangat berharga
    terima kasih sudah dibagi :)

    BalasHapus