Kan sudah kubilang (don't you hate it when people said that to you? I mean, come on, we know already that it's wrong. We've suffered enough by the consequences and we don't need any more embarrassment by being told like a foolish child "I told you so!")
Oke, "Kan sudah kubilang" bukan kalimat pembuka yang nyaman, jadi aku ganti secara sadar dengan kalimat berikut ini. Anggap saja paragraf pertama ini tidak ada dan loncat langsung ke paragraf berikutnya (as if you can do that! Hahaha. Sorry for being mean, but sometimes it feels good).
Dear Emily.
Aku ikut prihatin atas sakit perut berhari-hari yang kauderita. Tapi kamu sudah tahu resikonya kan, kalau makan cabai sebanyak itu? Terus terang aku sering heran padamu. Aku sudah menangis-nangis kalau tak sengaja tergigit sepotong cabai dalam lauk. Tapi kamu malah menambah dua-tiga batang rawit lagi, lalu kamu bilang kurang pedas, padahal bibirmu kemarin itu sudah merah nyala seperti dipoles gincu murahan dan bajumu basah kuyup seperti kuli bangunan. Heran aku. Kenapa kamu menyiksa diri sampai sebegitu rupa?
Kenapa orang suka menyiksa diri dengan makanan?
Maksudku, coba lihat orang yang makan blue cheese. Sejujurnya, itu keju busuk kan? Lalu kamu dan sederetan orang yang makan makanan pedas sampai perut melilit. Lalu mereka yang minum kopi hitam legam kental (aku selalu jadi gelisah hiperaktif tiap minum kopi hitam). Atau orang yang makan begitu sedikit dan tidak enak supaya tubuhnya tetap singset. Dan sintal. Ih, kata itu terasa geli di kuping ya? Sintal. Binal. Menggelinjang. Iiih.
Anyway, back to the topic, apa yang terjadi pada nenek moyang kita di jaman prasejarah, bagaimana mereka bisa memutuskan bahwa rasa pedas atau pahit atau tengik itu "enak", lalu menurunkan pemikiran itu pada kita?
Aneh. Manusia itu aneh, dengan segala ke-miring-annya.
Tapi, supaya adil, aku toh manusia juga, dan aku punya ke-miring-an seperti layaknya kamu yang suka makan pedas sampai murus-murus.
Emily, makanan masokisku adalah sushi. Yeah Emily, S U S H I.
Hmmmmmm.
Memikirkannya saja sudah membuatku.....apa ya?
Berdebar-debar.
Astaga.
Tapi ini sungguhan.
Untukku, definisi sushi yang sesungguhnya adalah sushi jepang klasik sederhana. Nori renyah, nasi legit manis dengan isian salmon mentah segar.
"Salmon Norimaki." (ucapkan itu seolah sedang menyebut nama kekasihmu!)
Segala jenis fusion sushi-yang aku hargai kreativitas pembuatnya-boleh pergi ke laut sekarang juga, karena hanya sushi klasik yang mampu membawamu ke negeri Sakura, lalu menuliskan berbait-bait syair cinta.
Dan satu-satunya cara yang layak untuk menikmati sushi klasik adalah cara klasik: dengan shoyu dan wasabi.
Perhatikan saat sang pembuat sushi meletakkan sepiring salmon norimaki di hadapanmu.
Hirup aromanya yang seperti laut.
Nikmati paduan warna pink salmon, putih nasi dan hijau nori. Lalu hitam shoyu dan hijau pupus wasabi.
(Wasabinya harus benar-benar pasta asli! Jangan terima wasabi bubuk yang dicairkan, kurang menohok. Don't ever accept cheap substitutes for really valuable things in life.)
Oleskan segumpal kecil wasabi di atas sepotong sushi.
Celupkan pada shoyu, jejalkan ke dalam mulutmu bulat-bulat, dan mulailah mengunyah!
Kalau takaran wasabi dan shoyunya pas, inilah yang akan terjadi:
Pertama-tama, dalam mulutmu merebak orkestra rasa gurih, legit, kenyal, asin, manis yang muncul bergantian. Sedap.
Berikutnya, wasabi akan menyentuh lidahmu. Dan tiba-tiba sekeping harum menusuk mulai menguasai mulutmu.
Lalu naik ke hidungmu.
Lalu ke kepalamu.
Perhatikan bagaimana sensasi semacam kesemutan itu merayap cepat, menyerang, lalu tinggal di sana di ubun-ubunmu, makin lama makin kuat sehingga kamu tak tahan.
Matamu berair, kepalamu pusing, dan kamu akan mengaduh kesakitan.
Kadang aku harus memegangi kepalaku saking perihnya.
Kemudian neraka itu berlalu, dan kamu terbangun dengan kepala ringan.
Kamu akan tersenyum lebar. Ketagihan.
Kamu akan mengambil seketul wasabi, bersiap-siap untuk petualangan berikutnya.
Saranku: never rush, take your time. The night is still long and sometimes you need a break between series of ecstasy.

Sepuluh potong sushi dalam piringmu, berarti sepuluh kali sensasi nyeri hebat sampai terbang ke langit.
Emily, nothing compares to it.
-Ketikcepat-
gambar dari sini
ah kamu,
BalasHapusaku jadi ingin sushi niiihhhh
:P
Nona Ikan Sapi
hah! junkies masochist!
BalasHapus:D