Kepada Yth. Majalah Remaja "Go Sip"
Dengan ini saya kirimkan naskah cerita pendek yang terinspirasi dari sebuah buku cerita (yang mana buku tersebut telah Anda ketahui, bukan?) Semoga berkenan adanya...jangan sedih, tentunya saya minta honor tetap dikirimkan ke alamat yang sama.
-Kitara-
Hari ini bunga mawar bertemu pangeran kecilnya.
Sejak pagi ia sudah tak sabar. Makan tak enak, diam tak enak, bekerja pun tak enak. Ketika waktu pertemuan semakin dekat, sang bunga pun berhias secantik mungkin. Dihaluskannya setiap kelopak, satu demi satu. Dibersihkannya debu dari setiap lipatan daun. Disusunnya helai mahkota sedemikian rupa, warna satu di atas warna lain, semakin lama semakin cantik. Terakhir, dioleskannya wewangian dengan harum paling menawan.
Ia luar biasa cantik, dan luar biasa gelisah.
Sang pangeran terlambat seperti biasa, dan seperti biasa, bunga mawar tak pernah peduli (atau tak pernah menunjukkan kalau ia peduli).
Lalu, tiba-tiba, pangeran kecil telah muncul di sisinya. Tak ada upacara penyambutan maupun gerombolan burung migran yang dulu membawa sang pangeran pergi berkelana. Hanya ia seorang, datang dalam sunyi, tanpa peringatan.
Pangeran kecil menatap sang bunga. Wajahnya lelah, tak sedetikpun ia beristirahat dalam perjalanan pulang yang jauh. Namun toh ia tersenyum, senyum lelah yang tulus, dan itu sudah cukup.
Tak terkatakan bahagia sang bunga berjumpa pangeran kecil, tetapi karena ia adalah bunga yang angkuh, tentu saja ia enggan menunjukkannya. Dengan gaya santai dan sedikit acuh, ia berucap sopan: "Ah, kamu. Lama tak bertemu, ya." Walau begitu, di sudut mulutnya ia tak sanggup menahan senyum, dan mahkota bunganya merona merah jambu.
Sisanya adalah sejarah: sungkup malam hari, menyiangi setiap sore, menyiram setiap pagi (dengan hati-hati agar tidak kena mahkota sang bunga yang rapuh). Dan pangeran kecil belajar mencintai kenaifan sang bunga, dan sang bunga belajar tersenyum serta berterima kasih pada pangeran kecil.
Dan mereka hidup bahagia, walaupun tidak sedahsyat kisah-kisah cinta di film Hollywood. Bagaimanapun, jatuh cinta itu biasa saja. Mungkin karena itulah rasanya begitu indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar