"You doubt your value. Don't drown away from what you are."
kata Aslan ke Lucy (The Chronicles of Narnia, The Voyage of Dawn Treader)
Pada suatu waktu, di suatu padang nun jauh di sana, tempat rumput masih hijau renyah dan langit masih biru jernih, serta anak sungai masih gemericik seperti nyanyian, tumbuh sebatang pohon apel yang besar dan berbuah lebat. Setiap pertengahan musim panas pohon itu berbuah ranum-ranum merah bergelantungan, menunggu dipetik tangan-tangan kecil dari desa.
Di antara apel-apel merah ranum di pohon ada sebutir Apel Kecil. Apel Kecil tumbuh di cabang ketiga dahan kesepuluh. Letaknya sedikit tersembunyi, tertutupi dedaunan lebat dan apel-apel lain yang lebih besar.
Apel Kecil adalah buah yang terlambat bangun. Saat semua saudaranya sudah tumbuh besar dan mulai berhias dengan semburat merah di kulit mereka, ia baru muncul, hijau mungil masam. Dari hari ke hari Apel Kecil berharap ia tumbuh lebih cepat: ia menginginkan tubuh yang besar, kulit merah ranum dan daging buah manis berair seperti saudara-saudaranya. Namun waktu tampaknya tetap berjalan lambat bagi Apel Kecil, dan dia harus sabar menunggu.
Suatu hari Minggu yang cerah Apel Kecil terbangun oleh suara tawa di kejauhan. Ternyata sekelompok anak dari desa datang bermain ke padang. Ada dua anak perempuan, satu bergaun biru dan berambut keriting, lainnya bergaun merah bintik-bintik dengan rambut berkepang dan mengenakan topi jerami. Lalu ada tiga anak laki-laki, satu masih kecil bermata coklat bening, sedangkan dua anak yang lebih besar bersama-sama menggotong sebuah keranjang piknik.
"Siapa mereka? Manis-manis sekali.." apel-apel di pohon berbisik-bisik.
"Lihat yang bergaun merah itu, rambut coklatnya berkilauan cantik sekali. Sudah pasti aku akan minta dia memetikku," ujar apel di dahan kedua.
"Ah, lihat anak laki-laki itu, yang paling besar, tampan ya dia? Kalau aku, lebih baik dipetik olehnya. Aku paling pantas untuknya!" sahut sebuah apel ranum dari dahan kesatu.
Dari balik kerimbunan daun yang menghalangi pandangannya, Apel Kecil mengintip. Memang betul anak-anak ini sangat manis, pikirnya. Alangkah senangnya kalau mereka mau memetikku, aku pasti akan merasa sangat cantik.
Anak-anak itu meletakkan keranjang di bawah pohon apel. Mereka berlari-larian di padang rumput, menangkap kupu-kupu, mencelupkan kaki ke air sungai yang sejuk sambil berteriak-teriak geli ketika ikan kecil mengerumuni kaki mereka.
Lalu anak laki-laki kecil menunjuk pohon apel besar. Kedua kakak laki-lakinya berpandangan dan tersenyum, lalu melangkah menuju pohon tersebut.
Apel-apel di pohon pun menjadi bersemangat.
"Lihat, mereka akan ke sini! Mereka mau memetik kita! Awas, jangan halangi aku! Minggir sedikit!" mereka pun berebutan tampil sempurna untuk menarik perhatian anak-anak itu. Masing-masing mengulurkan diri sejauh mungkin agar tampak jelas. Bagian yang paling merah mereka tampilkan, sementara beberapa apel yang berulat berusaha sebisa mungkin menyembunyikan lubang-lubang di permukaannya.
Apel Kecil pun tidak kalah, ia berusaha keras mengulurkan dirinya ke depan agar mudah terlihat. Namun ia Apel yang sangat kecil, masih hijau dan masam pula. Dengan mudah Apel-apel lain mendesaknya ke pinggir.
Kedua anak laki-laki itu mulai memanjat pohon. Adik mereka menunggu di bawah, siap memunguti apel-apel yang jatuh.
Satu demi satu apel-apel paling besar dan ranum dipetik, lalu dijatuhkan ke bawah. Semua apel kini berteriak keras-keras, "ayo, petik aku! Aku saja! Tidak, aku saja!"
Apel Kecil pun berseru, "Lihat aku, aku di sini. Ulurkan tanganmu ke arahku, aku ada di sini. Ayo, aku menunggumu." Tetapi suara kecilnya tenggelam di balik keriuhan Apel-apel yang lebih besar.
Akhirnya kedua anak laki-laki itu turun dari pohon, lalu membantu adik kecil mereka mengumpulkan apel yang jatuh. Ada sekeranjang besar hasilnya, tetapi Apel Kecil tak ada di sana. Apel Kecil masih tergantung di cabang ketiga dahan kesepuluh, bersama sebagian apel lain yang kurang matang, mendesah kecewa.
Kedua anak perempuan mulai mengatur taplak meja, piring-piring kaleng dan makanan, juga mengeluarkan sebotol besar susu yang berembun karena dingin. Anak laki-laki yang paling besar menyauk air dari sungai dengan buyung tanah liat, dan mereka makan bekal di bawah keteduhan pohon apel.
Saat hari makin senja, anak-anak itu mengemasi keranjang mereka dan pergi.
Minggu berikutnya, dan minggu berikutnya lagi, anak-anak lain datang untuk berpiknik dan memetik apel. Sekali lagi dan sekali lagi apel-apel di pohon memamerkan diri, berseru-seru memanggil, menyeruak di antara dedaunan. Makin banyak apel dipetik dari pohon, tetapi Apel Kecil yang hijau masam masih tergantung di sana, tersembunyi di balik rimbunan daun.
Saat udara hangat musim panas terhembus angin sejuk musim gugur, anak-anak yang datang semakin berkurang hingga padang itu kembali sepi tanpa pengunjung manusia. Apel-apel yang tersisa akhirnya mengalihkan pandangan, memilih dimakan oleh burung dan rakun daripada tak termakan sama sekali. Apel Kecil berusaha memamerkan dirinya sedapat mungkin, tetapi ia tampaknya belum kunjung beruntung.
Hingga suatu waktu, daun-daun pertama mulai gugur dari pepohonan. Apel-apel lain telah pergi, entah menjatuhkan diri ke tanah untuk menjadi makanan musang, atau habis dimakan burung dan ulat. Tinggal Apel Kecil yang masih bergelantungan di cabang ketiga dahan kesepuluh. Sesungguhnya ia bukan lagi apel yang kecil, karena ia telah tumbuh menjadi apel besar, kulitnya merah ranum dengan daging buah manis berair. Walau sangat cantik menarik, dalam hatinya ia masih Apel Kecil yang bingung dan sedih.
"Apa yang salah denganku? Kenapa, bahkan burung dan musang pun tak mau memakanku?" gumamnya, hampir meneteskan air mata (kalau ia punya mata).
Pada suatu pagi yang dingin, seluruh alam dikejutkan oleh kelebatan sinar terang dari langit. Sinar itu datang dari tiga buah pesawat tempur jauh di angkasa yang bergerak cepat menuju desa.
Sedetik kemudian terdengar dentuman keras.
Dalam sekejap kedamaian pagi hari itu porak-poranda. Asap hitam mengepul tebal dari
arah desa, suara teriakan dan jerit tangis terdengar di mana-mana. Hewan-hewan berlarian menyeberangi padang. Apel Kecil menyaksikan dengan takjub dan ketakutan ketika lidah-lidah api menjilat atap rumah penduduk lalu menari-nari tegak ke langit - desa itu kini tak lebih dari seonggok abu.
"Apa itu tadi? Kenapa ini terjadi?" gumam Apel Kecil. Lalu ia teringat anak-anak manis dari desa yang datang berpiknik di bawah pohonnya, pertengahan musim panas lalu. Jantung apelnya yang mungil berdegup cemas, dan ia pun memanjatkan doa agar anak-anak itu selamat.
Beberapa hari kemudian, dua sosok kelabu tertatih-tatih menuju pohon apel yang kini telah gundul. Seorang anak perempuan berambut keriting dan seorang anak lelaki kecil bermata coklat bening. Seperti di pertengahan musim panas, paras mereka masih tetap manis, tetapi kini lebih murung. Pakaian mereka kotor dan cabik di sana-sini.
Kedua anak itu duduk di bawah pohon apel. Si anak lelaki kecil menangis sambil memegangi perutnya, sementara anak perempuan yang besar berusaha menghiburnya.
Menyaksikan semua itu dari atas pohon, Apel Kecil mendadak paham mengapa ia menjadi apel terakhir yang bergelantungan di cabang ketiga dahan kesepuluh. Dengan segera ia mengguncangkan diri hingga tangkainya terlepas dari tambatan di pohon, dan ia pun jatuh lurus, mendarat tepat di sisi anak lelaki kecil.
Anak itu berseru senang dan meraih Apel Kecil. Air matanya mengering saat mengunyah daging buah yang renyah manis. Bersama-sama, anak lelaki kecil dan anak perempuan keriting itu menyantap si Apel Kecil hingga kenyang, lalu mereka terlelap di bawah pohon.
Sesaat sebelum gigitan terakhir ke jantungnya yang mungil, Apel Kecil tersenyum dan berbisik ke langit, "Terima kasih sudah membiarkanku menunggu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar